Berangkat dari hal itu, UNICEF bekerja sama dengan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) berupaya membuat satu pemahaman untuk mendukung ibu tetap menyusui. Akan dibuat pula suatu rekomendasi kepada pemerintah bahwa pemberian makanan pada bayi saat bencana bukan sekadar makan saja tetapi juga menyangkut soal nyawa, demikian dikatakan ketua umum Selasi dr Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC.
"Kalau bayi dan anak kita beri makanan yang tidak sesuai, risiko sakit meningkat 50%. Selain itu, kita juga pastikan ibu tetap bisa menyusui, jangan gara-gara bencana ibu malah nggak bisa menyusui. Kalau begini kondisinya, pasti kita dampingi," terang dr Wi, seperti ditulis Kamis (11/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti sistem multi-level marketing (MLM), diharapkan ketika motivator 'memberi pencerahan' pada beberapa ibu, si ibu nantinya bisa menularkan pencerahan tersebut pada ibu-ibu yang lain. Diibaratkan dr Wi, motivator seperti mesin skrining di lapangan.
Ketika ada kondisi yang tidak seharusnya misalkan anak kurang gizi, MP-ASI-nya tidak sesuai, atau ada masalah dalam menyusui maka si ibu akan dirujuk ke konselor menyusui atau pada tenaga kesehatan.
"Kita dukung dengan meningkatkan rasa pede percaya dirinya dan kita kasih tahu bahwa apa yang dikerjakan si ibu sudah benar sehingga proses menyusuinya bisa tetap lancar. Yang pasti dengan adanya dukungan psikis, ibu tidak terlalu stres, ASI-nya akan tetap lancar karena saat stres, produksi ASI tetap hanya pengeluarannya saja yang kurang lancar," papar dr Wi.











































