Sejak umur delapan minggu, Stephanie Mcaveeney melihat kondisi fisik bayinya tak tampak seperti bayi pada umumnya. Dokter membenarkan, dan mengatakan bayi Stephanie memiliki kepala gepeng.
Kondisi yang dialami bayi laki-laki bernama Oakley Porter-Mcaveeney ini disebut dengan brachycephaly atau lebih dikenal dengan sindrom kepala gepeng. Menurut pakar, brachycephaly tergolong sebagai kondisi langka.
Baca juga: Sering Nyeri Pinggang, Wanita Ini Tak Sadar Sedang Hamil Tua
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak pernah menyangka bila kondisi Oakley seserius ini. Tapi dari berbagai riset yang saya baca, ternyata helm inilah satu-satunya harapan Oakley," kata Stephanie.
Terdesak, Stephanie pun mem-posting kisahnya di Facebook. Dan ternyata kisah si kecil Oakley mendapat simpati banyak orang, dan mereka berbondong-bondong memberikan donasi agar bayi Stephanie bisa mendapatkan helm yang ia butuhkan.
Helm yang dikenakan bocah berumur lima bulan itu tampak luar biasa, apalagi oleh pembuatnya, nama Oakley dilukis di bagian depan helm tersebut. Ketika mengenakannya, Oakley pun sekilas terlihat seperti atlit tinju cilik yang siap bertarung.
Namun untuk memperbaiki tengkorak Oakley, helm ini harus dipakai si kecil selama 23 jam setiap harinya. Beruntung menurut sang ibu, Oakley dapat beradaptasi dengan helm itu.
"Ia tak tampak kesakitan dan cerita seperti biasanya. Dan saya sudah mulai melihat ada kemajuan, tinggal menunggu waktu sampai helm ini menunjukkan keajaibannya," tutur Stephanie seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (25/2//2015).
Wanita berusia 28 tahun itu menambahkan perkembangan kondisi Oakley akan terus diamati tiap dua minggu sekali, dan diperkirakan butuh waktu 4-6 bulan untuk memastikan kondisi tengkorak Oakley tak lagi gepeng.
Brachycephaly disebabkan oleh tekanan pada satu titik di kepala secara terus-menerus. Biasanya kondisi ini dapat mempengaruhi kondisi rahang dan keselarasan telinga, sehingga pada bayi dengan kasus brachycephaly ekstrem, mereka bisa saja kehilangan kemampuan bicara sekaligus pendengarannya.
"Ucapan terima kasih saja takkan cukup untuk membalas kebaikan orang-orang yang telah membantu kami," tutup Stephanie.
Baca juga: Kelainan Bawaan yang Sering Terjadi Pada Bayi
(lil/up)











































