Jakarta -
Edukasi soal kesehatan gigi memang terkadang sering diremehkan. Jika gigi belum sakit, jarang ada orang tua yang membawa anaknya ke dokter untuk diperiksa.
Padahal dokter mengatakan jika gigi susu yang rusak tak ditangani, penyakit gigi dan mulut bisa terbawa hingga tumbuhnya gigi permanen. Bahkan pada beberapa kasus, gigi susu bisa berpengaruh terhadap kesehatan gigi permanen ketika dewasa.
Dirangkum dari perbincangan dengan drg Oktri Manesa dari Oktri Manesa Dental Clinic, dan ditulis pada Selasa (10/3/2015), berikut 5 hal soal gigi susu yang wajib diketahui orang tua:
1. Bersihkan Gigi Susu Bayi dengan Kasa
Illustrasi: Thinkstock
|
Sebelum anak bisa menyikat giginya sendiri, dokter menyarankan agar orang tua membantu membersihkan gigi susu bayi, apalagi jika gigi susu masih dalam tahap pertumbuhan. drg Oktri menyarankan agar orang tua menggunakan kasa atau kain lap yang sudah direndam di air panas sehingga steril. Orang tua dapat membersihkan gigi susu bayi setelah selesai memberikan ASI.
"Kalau sehabis ngasih ASI, dan sudah ada putih-putih tanda giginya mau tumbuh, dibersihkan dengan kasa saja. Tapi kalau anak giginya belum tumbuh, tidak dibersihkan juga tidak apa-apa," ungkapnya.
2. Jangan Cabut Gigi Susu Sebelum Waktunya
Illustrasi: Thinkstock
|
drg Oktri mengatakan bahwa masih banyak orang tua yang memilih mencabut gigi susu balita yang belum tanggal dengan alasan sudah rusak atau jelek karena bolong. Padahal hal itu tidak dianjurkan oleh dokter.
"Jangan dicabut gigi susu, meskipun sudah rusak ya. Fungsinya gigi susu itu kan sebagai pemandu tumbuhnya gigi permanen. Kalau gigi susu dicabut atau tanggal sebelum waktunya, nanti tumbuh gigi permanennya tidak akan bagus," ungkapnya.
Ditambahkannya lagi bahwa gigi permanen yang tidak tumbuh sempurna akan tumbuh miring ke kiri atau ke kanan. Struktur keseluruhan gigi pun jelek dan dikenal sebagai gigi rapat atau crowded.
3. Gigi Susu Rusak Tak Pengaruhi Pertumbuhan Gigi Permanen
Illustrasi: Thinkstock
|
Banyak orang tua yang mengaku khawatir karena gigi susu anaknya rusak atau berlubang. Mereka takut bahwa kalau gigi susu anak rusak, gigi tetap yang akan tumbuh pun akan ikut-ikutan rusak.
Anggapan tersebut ditepis oleh drg Oktri. Menurutnya gigi susu yang rusak tak apa-apa, jangan dicabut sebelum waktunya agar pertumbuhan gigi permanen tak melenceng keluar jalur.
"Rusak nggak apa-apa sih. Istilahnya kan kecolongan. Karena nanti kan tumbuh lagi gigi permanen yang baru dan bagus. Kalau udah tumbuh gigi permanen masih rusak juga, berarti yang salah kebiasannya, kebanyakan makan terlalu manis, terlalu asam atau malah jarang sikat gigi," ungkapnya.
4. <i>Ngedot</i> Terlalu Lama Sebabkan Gigi Anak <i>Grepes</i>
Illustrasi: Thinkstock
|
Selama ini dot atau empeng dikatakan dapat membuat gigi anak tonggos atau tumbuh terlalu maju ke depan. drg Oktri mengatakan bahwa ada bahaya lain yang diakibatkan oleh anak ngedot terlalu lama.
"Karena sekarang ibu-ibu sibuk kan kerja sekaligus mengurus anak. Nah banyak yang agar anaknya tak rewel di malam hari, akhirnya dikasih susu sampai ketiduran bahkan sampai besok pagi. Ini tidak baik karena dapat menyebabkan nursing bottle caries," ungkap drg Oktri.
drg Oktri mengatakan bahwa gigi bayi yang tak rata atau grepes merupakan reaksi dari pemanis susu yang tertahan di mulut. Gigi susu yang terendam pun akhirnya rusak.
Sebelum anak bisa menyikat giginya sendiri, dokter menyarankan agar orang tua membantu membersihkan gigi susu bayi, apalagi jika gigi susu masih dalam tahap pertumbuhan. drg Oktri menyarankan agar orang tua menggunakan kasa atau kain lap yang sudah direndam di air panas sehingga steril. Orang tua dapat membersihkan gigi susu bayi setelah selesai memberikan ASI.
"Kalau sehabis ngasih ASI, dan sudah ada putih-putih tanda giginya mau tumbuh, dibersihkan dengan kasa saja. Tapi kalau anak giginya belum tumbuh, tidak dibersihkan juga tidak apa-apa," ungkapnya.
drg Oktri mengatakan bahwa masih banyak orang tua yang memilih mencabut gigi susu balita yang belum tanggal dengan alasan sudah rusak atau jelek karena bolong. Padahal hal itu tidak dianjurkan oleh dokter.
"Jangan dicabut gigi susu, meskipun sudah rusak ya. Fungsinya gigi susu itu kan sebagai pemandu tumbuhnya gigi permanen. Kalau gigi susu dicabut atau tanggal sebelum waktunya, nanti tumbuh gigi permanennya tidak akan bagus," ungkapnya.
Ditambahkannya lagi bahwa gigi permanen yang tidak tumbuh sempurna akan tumbuh miring ke kiri atau ke kanan. Struktur keseluruhan gigi pun jelek dan dikenal sebagai gigi rapat atau crowded.
Banyak orang tua yang mengaku khawatir karena gigi susu anaknya rusak atau berlubang. Mereka takut bahwa kalau gigi susu anak rusak, gigi tetap yang akan tumbuh pun akan ikut-ikutan rusak.
Anggapan tersebut ditepis oleh drg Oktri. Menurutnya gigi susu yang rusak tak apa-apa, jangan dicabut sebelum waktunya agar pertumbuhan gigi permanen tak melenceng keluar jalur.
"Rusak nggak apa-apa sih. Istilahnya kan kecolongan. Karena nanti kan tumbuh lagi gigi permanen yang baru dan bagus. Kalau udah tumbuh gigi permanen masih rusak juga, berarti yang salah kebiasannya, kebanyakan makan terlalu manis, terlalu asam atau malah jarang sikat gigi," ungkapnya.
Selama ini dot atau empeng dikatakan dapat membuat gigi anak tonggos atau tumbuh terlalu maju ke depan. drg Oktri mengatakan bahwa ada bahaya lain yang diakibatkan oleh anak ngedot terlalu lama.
"Karena sekarang ibu-ibu sibuk kan kerja sekaligus mengurus anak. Nah banyak yang agar anaknya tak rewel di malam hari, akhirnya dikasih susu sampai ketiduran bahkan sampai besok pagi. Ini tidak baik karena dapat menyebabkan nursing bottle caries," ungkap drg Oktri.
drg Oktri mengatakan bahwa gigi bayi yang tak rata atau grepes merupakan reaksi dari pemanis susu yang tertahan di mulut. Gigi susu yang terendam pun akhirnya rusak.
(rsm/vta)