Bayi Sering BAB di Minggu-minggu Awal Kelahirannya, Apa yang Terjadi?

Bayi Sering BAB di Minggu-minggu Awal Kelahirannya, Apa yang Terjadi?

Sapta Agung Pratama - detikHealth
Minggu, 13 Sep 2015 13:57 WIB
Bayi Sering BAB di Minggu-minggu Awal Kelahirannya, Apa yang Terjadi?
Foto: Thinkstock
Jakarta - Seringkali ibu-ibu merasa khawatir saat bayinya yang baru berusia beberapa minggu kerap buang air besar (BAB). Mengapa kondisi ini sering terjadi?

Terkait bayi yang sering BAB di awal-awal hidupnya, Muji Hananik, salah satu konselor laktasi ASI di RSIA Bunda mengingatkan agar ibu tidak perlu khawatir. Menurutnya, hal ini wajar terjadi karena ASI memang mengandung laktosa dalam jumlah yang tinggi. Namun, kondisi ini tidak akan bertahan lama.

"Yang umum biasanya kan ibu-ibu suka takut kalau-kalau anaknya mencret. Tapi kita juga harus bisa membedakan bagaimana  bayi yang mencret dan bagaimana yang sering BAB karena laktosa dari ASI," jelas Muji pada seminar New Mom, New You bersama Philips Avent di auditorium RS Bunda, Menteng, Jakarta, dan ditulis pada Minggu (13/9/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Jangan Dilarang, Kebiasaan Bayi Masukkan Tangan ke Mulut Ada Manfaatnya

Untuk memastikan apakah bayi benar-benar mencret atau tidak, ibu dapat melihat dari aktivitas si bayi setiap harinya. Jika bayi masih terbilang aktif, maka bisa dipastikan bayi tidak mencret. Namun jika kondisi bayi sering lemas dan terlihat tidak ada tenaga, Muji menyarankan agar segera diperiksakan ke dokter.

Dengan begitu seringnya bayi buang air besar pada minggu-minggu awal pasca dilahirkan ini, berat badan bayi tentu akan berkurang. Namun hal ini wajar terjadi, sebab menurut dr Melanie Yudia Iskanda SpA dalam kesempatan yang sama, ketika masih di dalam rahim, ada banyak cairan. Sehingga berat badan bayi bertambah karena adanya cairan di dalam tubuh yang dibawa sejak dari rahim ini.

Namun, ibu juga perlu waspada mengenai pengurangan berat badan ini. "Toleransinya itu sekitar 10 persen. Kalau berat badannya berkurang lebih dari itu, si ibu perlu hati-hati. Bisa jadi anak dehidrasi," jelas dr Melanie.

Jika hal ini terjadi, Dr Melanie menyarankan agar ibu lebih memerhatikan manajemen laktasinya serta posisi bayi ketika disusui. Jika dua hal tersebut telah dilakukan dengan benar, selanjutnya cek kembali produksi ASI. Jika memang tidak cukup, si ibu akan ditawarkan untuk menggunakan jasa donor ASI.

Baca juga: Apakah Bayi Anda Mendapat ASI Cukup? Ini Cara Mengetahuinya


(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads