Inilah yang ditemukan tim peneliti dari University of Montreal. Menurut mereka, bayi bukannya tidak suka diajak omong ketika rewel, akan tetapi ia lebih merasa tenang bila diperdengarkan sebuah lagu.
Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengamati 30 bayi sehat berumur 6-9 bulan ketika diperdengarkan sejumlah rekaman. Di antaranya rekaman bayi berbicara, suara orang dewasa, dan lagu-lagu berbahasa asing. Kebetulan yang dipakai peneliti adalah lagu berbahasa Turki sehingga bayi tidak familiar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat diperdengarkan lagu-lagu Turki, mereka tetap saja tenang rata-rata sampai 9 menit. Sedangkan saat mendengar orang bicara, paling hanya separuhnya. Kami terkejut dengan adanya perbedaan ini," ungkap ketua tim peneliti, Marieve Corbeil seperti dikutip dari Express, Senin (2/11/2015).
Ketika mendengar suara sesamanya berbicara, bayi masih bisa 'tahan' mendengarnya sampai lebih dari empat menit. Namun saat mendengar suara orang dewasa, mereka hanya 'tahan' kurang dari empat menit saja.
Baca juga: La la la... Bernyanyi Saat Hamil Baik untuk Bayi yang Dikandung
Dengan menggunakan rekaman suara orang dewasa yang asing di telinga bayi, peneliti ingin memastikan bahwa kemampuan ini tidak semata dipengaruhi faktor biologis di mana mereka mungkin dapat mengenali suara ibunya dengan baik.
Untuk memastikan hal itu, peneliti lagi-lagi memperdengarkan rekaman suara ibu bernyanyi dengan bahasa Prancis atau bahasa yang lebih familiar bagi bayi. Dan ternyata efek yang terlihat juga sama, yaitu bayi tetap tenang dalam kurun lebih dari 4-5 menit.
Mereka merasa temuan ini penting mengingat para ibu, khususnya di masyarakat Barat, cenderung lebih banyak mengajak anaknya berbicara ketimbang bernyanyi, sehingga anak mereka kehilangan kesempatan untuk mempelajari kemampuan mengatur emosi sejak dini.
Peneliti juga percaya, bersenandung di depan bayi juga bermanfaat bagi orang tua sendiri, misalnya bagi mereka yang mengalami kesulitan ekonomi atau gangguan emosional.
"Bagi sebagian orang tua, rewelnya bayi akan tentu memicu frustrasi dan kemarahan, terutama bagi mereka yang memang rentan, sehingga mereka jadi kurang peka terhadap si anak, dan pada kasus terburuk, bayinya akan diabaikan atau bahkan dianiaya," jelas peneliti lainnya, Prof Isabelle Peretz.
Baca juga: Air Ketuban Pecah Saat Karaoke, Ibu Ini Melahirkan 1 Bulan Lebih Awal
(lll/up)











































