Temuan ini akan dipresentasikan dalam Australasian Society for Infectious Diseases (ASID) Annual Scientific Meeting. Pertemuan digelar di Launceston pada akhir pekan ini.
Presiden ASID, Profesor Cheryl Jones, menuturkan Australia mengalami outbreak atau peningkatan kasus kejadian parechovirus pada akhir 2013 dan awal 2014. Kasus terutama ditemukan di Syndney. Kasus kemudian muncul lagi tahun lalu di New South Wales dan Queensland.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bayi yang terkena akan mengalami demam tinggi, muncul ruam, dan sering kali rewel sehingga dibawa ke rumah sakit. Anak-anak yang kita teliti, mereka yang memiliki infeksi di otak juga memiliki virus di cairan tulang belakangnya," terang Prof Jones dikutip dari news.com.au, Sabtu (23/4/2016).
Virus tersebut menyebar melalui kontak langsung cairan napas, air liur atau tinja dari orang yang terinfeksi. Untuk virus ini, sejauh ini tidak ada vaksin.
"Kita perlu melakukan studi pada besar anak-anak ini begitu mereka berusia 3-5 tahun, untuk benar-benar memahami konsekuensi jangka panjangnya. Juga perlu penelitian di masa depan terkait cara-cara untuk mencegah infeksi," sambung Prof Jones.
![]() |
Virus ini pertama kali diidentifikasi di Amerika Serikat pada tahun 90-an. Disebut-sebut, virus ini bisa memengaruhi kemampuan gerak dan pemecahan masalah pada anak.
Departemen Kesehatan New South Wales menggarisbawahi higienitas yang baik merupakan cara terbaik untuk melawan virus ini. Karena itu disarankan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun pada saat: selesai dari toilet, sebelum makan, setelah mengelap hidung, juga setelah mengganti popok dan pakaian anak.
"Pastikan mulut dan hidung tertutup saat batuk dan bersin. Usap hidung dan mulut dengan tisu, buang tisu bekasnya dan kemudian cuci tangan Anda," begitulah pesan kesehatan disampaikan.
Sementara itu diimbau bagi orang yang sedang tidak sehat, misalnya sedang pilek, flu, atau ada masalah pencernaan agar menjauh dari bayi. Namun jika Anda sedang tidak sehat dan harus mengasuh bayi, pastikan selalu mencuci tangan atau menggunakan antiseptik berbasis alkohol sebelum menyentuh bayi ataupun sebelum menyusuinya.
Baca juga: 63 Tenaga Medis Berjuang Demi Selamatkan 1 Bayi dari Demam Aneh
Kasus bayi yang terkena parechovirus antara lain adalah Phineas. Kasusnya memang sudah cukup lama, pada Mei 2010, bayi yang saat itu berusia 3 minggu tiba-tiba lesu dan demam. Saat dibawa ke rumah sakit, si bayi bertambah lesu dan kurang responsif, sehingga perawat pun memanggil konsultan.
Saat itu dokter tidak tahu apa yang menyebabkan gejala tersebut. Phineas pun mulai kekurangan oksigen.Kadar gula darahnya sangat rendah sehingga dikhawatirkan merusak otak dan berakibat fatal. Aneka pompa dan alat medis pun menempel di tubuh bayi mungil itu demi memantau suhu tubuh, detak jantung dan kadar oksigen.
Phineas pun harus menjalani rontgen dada, pemeriksaan cairan tulang belakang untuk mengetahu tanda-tanda peradangan otak, tes darah dan tes urine. Namun saat itu para dokter belum mengetahui penyebab pastinya. Hingga akhirnya kondisi Phineas stabil. Setelah diteliti, dokter memastikan penyebab kondisi yang dialami Phineas adalah parechovirus.
Parechovirus adalah virus yang umum dan sering tidak menyebabkan masalah selain demam serta tidak enak badan. Tapi karena Phineas saat itu masih sangat muda jadi sistem kekebalan tubuhnya belum matang dan kewalahan menghadapi serangan virus.
(vit/up)












































