Namun dr Agung Z. W. dari Komunitas Prematur Indonesia (KPI) mengatakan orang tua di Indonesia umumnya tak sabar untuk membawa pulang anak prematur. Padahal ada banyak skrining yang harus dilakukan untuk mendeteksi kelainan-kelainan misalnya di kepala, jantung, pernapasan, pencernaan, penglihatan, dan pendengaran.
Contoh kelainan yang rentan dialami untuk penglihatan misalnya retinopathy of prematurity (ROP). Sekitar 30 persen bayi prematur bisa mengalaminya dan menurut dr Agung pada beberapa kasus bila tak ditangani dengan baik akan menyebabkan kebutaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: ASI Tingkatkan Perkembangan Otak Bayi Prematur
"Nah orang tua di Indonesia memang suka nggak sabar pengan bayi prematurnya dibawa pulang. Ada yang berpikir 'kan sudah ditangani secara medis'. Padahal sabar aja deh karena (kelainan -red) penyerta ini kan ketahuannya dari skrining," sambungnya.
dr Agung mengaku bahwa anaknya sendiri lahir prematur sehingga ia bisa memahami apa yang mungkin dirasakan orang tua. Oleh sebab itu bila memang ingin membantu kondisi bayi yang tengah dirawat orang tua bisa melakukan perawatan metode kanguru (PMK).
Setiap hari orang tua bisa melakukan kontak fisik kulit menggendong bayi dengan prinsip seperti inisiasi menyusui dini. dr Agung mengatakan manfaat PMK ini dalam beberapa studi terbukti membuat bayi lebih tahan terhadap ancaman infeksi dan positif untuk kesehatan secara keseluruhan.
"PMK bisa dilakukan terputus-putus dengan satu sesi minimal satu jam. Prinsipnya persis seperti inisiasi menyusui dini dan bisa dilakukan tidak hanya oleh ibu tapi bapaknya juga asal bayi sudah stabil. Ya capai memang terus-terusan tapi nggak apa-apa," tutup dr Agung.
Baca juga: Studi: Bayi yang Lahir Prematur Bisa Picu Depresi dan Kecemasan Orang Tuanya
(fds/vit)










































