5 Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Bawaan Lahir

5 Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Bawaan Lahir

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 24 Jan 2017 19:10 WIB
5 Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Bawaan Lahir
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Gangguan pendengaran yang tidak ditangani dengan baik bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Masalahnya, pakar menyebut gangguan pendengaran bawaan lahir sulit sekali dikenali.

dr Tri Juda Airlangga, SpTHT-KL(K), Kepala Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan Bedah Kepala dan Leher RSCM-FKUI menyebut tidak ada perbedaan signifikan antara bayi yang pendengarannya sehat dengan bayi yang mengalami gangguan bawaan lahir, terutama pada bayi usia 0 hingga 6 bulan.

"Sama saja terutama untuk usia 0 sampai 6 bulan, karena memang sulit dilihat. Kalau punya satu faktor risiko saja, risiko mengalami gangguan pendengaran meningkat hingga 10 kali lipat," tutur pria yang akrab disapa dr Angga ini, dalam temu media di RSCM Kencana, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ini Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Dengar Bayi Baru Lahir

Untuk itu, dr Angga mengatakan penting bagi orang tua untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang bisa menyebabkan bayi mengalami gangguan pendengaran bawaan lahir. Apa saja? Dirangkum detikHealth, berikut beberapa di antaranya:

1. Infeksi TORCH saat hamil

Foto: Thinkstock
Infeksi yang dialami oleh ibu saat hamil bisa membuat anak mengalami gangguan pendengaran, terutama infeksi TORCH. TORCH merupakan kepanjangan dari infeksi Toksoplasma, infeksi lain, Rubella, Citomegalovirus dan Herpes simpleks.

"Kalau Rubella itu paling berbahaya, karena selain mengganggu pendengaran juga bisa menyebabkan kelainan jantung bocor dan pernapasan," ungkap dr Harim Priyono, SpTHT-KL(K), Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan Bedah Kepala dan Leher RSCM-FKUI.

2. Bayi kuning saat lahir

Foto: ilustrasi/thinkstock
Bayi dengan kulit kekuningan menandakan tingginya kadar bilirubin dalam darah. Dikatakan dr Harim, kadar bilirubin yang tinggi bisa merusak sel rambut yang ada di dalam telinga.

"Bilirubin yang tinggi bisa menyebarke seluruh tubuh, dan pada bayi, bilirubin itu bisa menempel pada sel rambut yang mengganggu proses pengantaran suara ke saraf pendengaran," paparnya lagi.

3. Faktor genetik

Foto: Thinkstock
Faktor genetik memegang peranan besar dalam meningkatkan risiko gangguan pendengaran bawaan lahir. Dikutip dari American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), faktor genetik merupakan penyebab 50 persen kasus gangguan pendengaran.

Orang tua bisa saja memiliki gen yang cacat dan ketika membentuk janin, gen tersebut memengaruhi proses pembentukan sistem pendengaran anak.

4. Berat badan lahir rendah

Foto: thinkstock
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah juga memiliki risiko mengalami gangguan pendengaran bawaan lahir. Tidak jelas mengapa hal ini terjadi namun literatur dan panduan kedokteran menyebut berat badan lahir rendah berbahaya bagi bayi.

"Kalau bayi lahir beratnya di bawah 1 kg atau 1,5 kg itu berat badannya rendah, dan berpotensi memiliki gangguan pendengaran," tuturnya.

5. Penggunaan obat-obatan

Foto: thinkstock
Penggunaan obat-obatan, terutama yang dikonsumsi oleh ibu hamil bisa menyebabkan komplikasi kehamilan, salah satunya adalah gangguan pendengaran yang dialami janin. Aminoglycosides, obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi pada ibu hamil disebut sebagai salah satu obat yang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran pada janin.

Oleh karena itu, ibu hamil diminta berhati-hati dan tidak menggunakan antibiotik sembarangan tanpa konsultasi dengan dokter.
Halaman 2 dari 6
Infeksi yang dialami oleh ibu saat hamil bisa membuat anak mengalami gangguan pendengaran, terutama infeksi TORCH. TORCH merupakan kepanjangan dari infeksi Toksoplasma, infeksi lain, Rubella, Citomegalovirus dan Herpes simpleks.

"Kalau Rubella itu paling berbahaya, karena selain mengganggu pendengaran juga bisa menyebabkan kelainan jantung bocor dan pernapasan," ungkap dr Harim Priyono, SpTHT-KL(K), Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan Bedah Kepala dan Leher RSCM-FKUI.

Bayi dengan kulit kekuningan menandakan tingginya kadar bilirubin dalam darah. Dikatakan dr Harim, kadar bilirubin yang tinggi bisa merusak sel rambut yang ada di dalam telinga.

"Bilirubin yang tinggi bisa menyebarke seluruh tubuh, dan pada bayi, bilirubin itu bisa menempel pada sel rambut yang mengganggu proses pengantaran suara ke saraf pendengaran," paparnya lagi.

Faktor genetik memegang peranan besar dalam meningkatkan risiko gangguan pendengaran bawaan lahir. Dikutip dari American Speech-Language-Hearing Association (ASHA), faktor genetik merupakan penyebab 50 persen kasus gangguan pendengaran.

Orang tua bisa saja memiliki gen yang cacat dan ketika membentuk janin, gen tersebut memengaruhi proses pembentukan sistem pendengaran anak.

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah juga memiliki risiko mengalami gangguan pendengaran bawaan lahir. Tidak jelas mengapa hal ini terjadi namun literatur dan panduan kedokteran menyebut berat badan lahir rendah berbahaya bagi bayi.

"Kalau bayi lahir beratnya di bawah 1 kg atau 1,5 kg itu berat badannya rendah, dan berpotensi memiliki gangguan pendengaran," tuturnya.

Penggunaan obat-obatan, terutama yang dikonsumsi oleh ibu hamil bisa menyebabkan komplikasi kehamilan, salah satunya adalah gangguan pendengaran yang dialami janin. Aminoglycosides, obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi pada ibu hamil disebut sebagai salah satu obat yang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran pada janin.

Oleh karena itu, ibu hamil diminta berhati-hati dan tidak menggunakan antibiotik sembarangan tanpa konsultasi dengan dokter.

(mrs/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads