Kamis, 26 Jan 2017 12:28 WIB

Mitos atau Fakta?

Benarkah Imunisasi MMR Bikin Anak Jadi Autis?

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Ilustrasi anak hendak divaksin (Grandyos Zafna) Foto: Ilustrasi anak hendak divaksin (Grandyos Zafna)
Jakarta - Sampai saat ini, masih banyak orang tua yang memilih untuk tidak memberikan imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) untuk anaknya. Hal ini dikarenakan sebagian besar meyakini pemberian vaksin MMR bisa membuat anak jadi autis.

Hal ini dibantah oleh dokter spesialis anak RSUD Dr Soetomo Surabaya, dr Meta Hanindita, SpA. Menurutnya, tidak ada bukti ilmiah antara imunisasi campak ataupun MMR dengan autisme.

"Berbagai penelitian dilakukan Amerika dan di Eropa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara MMR dan autisme. Berbagai kajian American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan antara imunisasi MMR dan timbulnya autisme," ujar dr Meta kepada detikHealth.

Vaksin MMR sendiri memiliki fungsi untuk mencegah measles (campak), mumps (gondong), dan rubella (campak jerman). Campak merupakan penyakit infeksi yang amat menular dengan gejala demam tinggi, batuk pilek, mata merah, dan ruam merah di kulit.

Baca juga: Didiamkan Saat Menangis Bikin Paru-paru Bayi Makin Sehat?

Bila terserang campak, komplikasi yang mungkin timbul adalah infeksi telinga, radang paru-paru, radang otak (encephalitis) yang dapat menyebabkan kejang, tuli, dan retardasi mental pada 1-2 dari 2000 individu yang terkena. Sementara itu, penyakit gondong memberikan gejala demam, sakit kepala, dan pembengkakan pada satu atau dua sisi pipi bagian belakang/rahang bawah.

Komplikasi radang selaput otak (meningitis) dapat terjadi pada 4-6 dari 100 individu yang menderita gondong. Komplikasi lain adalah gangguan pendengaran yang biasanya permanen, radang buah zakar (testis) yang dapat menimbulkan risiko sterilitas (mandul).

Menurut dr Meta, penyakit campak jerman (rubella) menimbulkan gejala demam 2-3 hari dan bercak-bercak merah. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat berat pada janin, yang dikenal sebagai sindrom rubella congenital, bila mengenai ibu hamil terutama pada hamil muda.

"WHO (World Health Organization -red) juga membentuk sebuah komisi yang terdiri dari peneliti independen untuk mengkaji hubungan imunisasi MMR dan autisme. Hasilnya adalah sama, tidak hubungan antara keduanya," pungkas dr Meta.

Baca juga: Pijatan Bawang Merah Ampuh Redakan Demam Anak, Benar Tidak Ya?

(ajg/vit)