'Aturan' Mandi dan Keramas Bayi Baru Lahir yang Perlu Diketahui

'Aturan' Mandi dan Keramas Bayi Baru Lahir yang Perlu Diketahui

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 27 Feb 2017 14:33 WIB
Aturan Mandi dan Keramas Bayi Baru Lahir yang Perlu Diketahui
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Terutama bagi orang tua baru, perawatan bayi baru lahir bisa menimbulkan keraguan. Termasuk juga kegiatan keramas ketika si kecil mandi.

Terkait kegiatan mandi dan keramas, dr Margaretha Komalasari SpA dari RS Pusat Pertamina mengatakan kulit bayi memang sensitif sekali dan produksi kelenjar keringatnya pun aktif dan banyak.

"Kelenjar lemaknya juga belum sesempurna bayi atau anak yang lebih besar. Jadi memang perawatan yang baik dan tepat, termasuk saat mandi dan keramas itu bisa membantu pertumbuhan bayinya juga. Jadinya bayi tidur lebih nyaman, kepalanya nggak gatal dan segar," kata dr Atha, begitu ia akrab disapa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sela-sela #MyBabyKeramasCeria di Playparq, Kemang, baru-baru ini, berikut 'aturan' soal mandi dan keramas bayi baru lahir yang penting diperhatikan Ayah dan Ibu.

Baca juga: Bahaya! Jangan Pernah Tinggalkan Bayi di Kursi Mandi

1. Kapan bayi baru lahir boleh keramas dan berapa frekuensinya?

Foto: Thinkstock
dr Atha mengatakan, bayi rematur memang tidak boleh mandi dulu di awal kehidupannya karena dikhawatirkan ia mengalami hipotermia. Ketika suhu tubuh si bayi sudah stabil, barulah ia boleh mandi.

Tapi, untuk bayi yang cukup bulan, dalam waktu 12 atau 24 jam dia sudah boleh dimandikan dan dikeramasi. Jika dikeramasi dua kali sehari pun tak apa menurut dr Atha karena lebih pada menjaga kebersihan bayi.

"Bayi kan kelenjar keringatnya aktif banget. Kalau nggak dibersihin baik-baik kotoran malah menumpuk, kelenjar lemak nggak bekerja dengan baik, kepalanya kotor dan gampang timbul craddle cap. Kadang, bisa timbul bau tak sedap," kata dr Atha.

Jika terlanjur timbul craddle cap (semacam plak yang menempel di kepala bayi) di kepala bayi, dr Atha menekankan kebersihan kepala bayi mesti dijaga. Rutin keramas pun membantu menghilangkan craddle cap.

"Bisa juga dibantu dengan mengompres kulit kepala bayi pakai minyak alami, jadinya craddle-nya seperti ngelotok gitu. Bisa dipakai minyak zaitun atau minyak kelapa, lalu karena rambutnya berminyak, dikeramasin dengan bersih," tutur dr Atha.

2. Suhu air yang dipakai saat mengeramasi bayi

Foto: ilustrasi/thinkstock
dr Atha menegaskan saat mengeramasi bayi gunakan air yang tidak terlalu panas dan tidak telalu dingin. Direkomendasikan, orang tua menggunakan air dengan suhu suam-suam kuku. Di usia 6 bulan, anak sudah bisa dilatih mandi dengan air yang tak terlalu hangat.

"Justru kalau mandi dengan air terlalu panas itu bikin kulit bayi lebih kering. Apalagi anak yang kulitnya sensitif, air mandinya nggak boleh terlalu panas, itu akan memperkering kulitnya," tutur dr Atha.

Untuk waktu mandi, dr Atha menyarankan ada ritme tiap harinya. Misalnya di sore hari, ibu bisa memandikan bayi di jam 4 atau 5 sore.

3. Anak demam boleh tetap mandi

Foto: Thinkstock
Demam bukan penyebab bayi tidak mandi. Menurut dr Atha, justru anak yang sakit mesti dijga kebersihan kulitnya supaya nanti tidak ada problem. Hanya saja, dalam kondisi anak demam, suhu air saat mandi dibuat sehangat atau mendekati suhu tubuh anak.

"Jangan pakai air dingin ya," ujar dr Atha.

4. Penggunaan sampo

Foto: ilustrasi/thinkstock
"Kulit anak sangat sensitif. Jadi penting sekali mencari produk yang aman dan sudah teruji klinis supaya nggak timbul reaksi yang tidak diinginkan," kata dr Atha.

Ketika bayi tidak cocok dengan produk yang digunakan, tandanya akan lebih cepat terlihat. Contohnya, akan timbul reaksi yang tak lazim dari biasanya di kepala bayi ketika ia dipakaikan sampo yang tidak cocok.

"Pokoknya akan timbul reaksi di area yang terjadi kontak dengan produk tersebut. Kalau ini terjadi, stop dulu pemakaian produk itu, ibaratnya dinetralkan dulu," kata dr Atha.

5. Menciptakan suasana keramas yang fun

Foto: ilustrasi/thinkstock
Supaya mandi dan keramas jadi momen yang menyenangkan, buatlah suasana yang bisa membuat anak enjoy. Misalnya, sediakan beragam mainan kemudian ajak pula si kecil mandi sambil bermain. Intinya, kata dr Atha buatlah anak jadi tidak takut mandi.

Diungkapkan dr Atha, mata perih karena terkena sampo bisa menimbulkan trauma pada anak. Terlebih, pada dasarnya anak bisa merasa tidak nyaman ketika air mengenai mata mereka.

"Jangan lupa beri pijatan lembut, stimulasi sentuh untuk anak sehingga bonding makin lekat. Nggak hanya dilakukan ibu, mengeramasi bayi untuk mendekatkan bonding juga bisa dilakukan ayah atau anggota keluarga yang lain meski memang utamanya ayah atau ibu ya," tutur dr Atha.
Halaman 2 dari 6
dr Atha mengatakan, bayi rematur memang tidak boleh mandi dulu di awal kehidupannya karena dikhawatirkan ia mengalami hipotermia. Ketika suhu tubuh si bayi sudah stabil, barulah ia boleh mandi.

Tapi, untuk bayi yang cukup bulan, dalam waktu 12 atau 24 jam dia sudah boleh dimandikan dan dikeramasi. Jika dikeramasi dua kali sehari pun tak apa menurut dr Atha karena lebih pada menjaga kebersihan bayi.

"Bayi kan kelenjar keringatnya aktif banget. Kalau nggak dibersihin baik-baik kotoran malah menumpuk, kelenjar lemak nggak bekerja dengan baik, kepalanya kotor dan gampang timbul craddle cap. Kadang, bisa timbul bau tak sedap," kata dr Atha.

Jika terlanjur timbul craddle cap (semacam plak yang menempel di kepala bayi) di kepala bayi, dr Atha menekankan kebersihan kepala bayi mesti dijaga. Rutin keramas pun membantu menghilangkan craddle cap.

"Bisa juga dibantu dengan mengompres kulit kepala bayi pakai minyak alami, jadinya craddle-nya seperti ngelotok gitu. Bisa dipakai minyak zaitun atau minyak kelapa, lalu karena rambutnya berminyak, dikeramasin dengan bersih," tutur dr Atha.

dr Atha menegaskan saat mengeramasi bayi gunakan air yang tidak terlalu panas dan tidak telalu dingin. Direkomendasikan, orang tua menggunakan air dengan suhu suam-suam kuku. Di usia 6 bulan, anak sudah bisa dilatih mandi dengan air yang tak terlalu hangat.

"Justru kalau mandi dengan air terlalu panas itu bikin kulit bayi lebih kering. Apalagi anak yang kulitnya sensitif, air mandinya nggak boleh terlalu panas, itu akan memperkering kulitnya," tutur dr Atha.

Untuk waktu mandi, dr Atha menyarankan ada ritme tiap harinya. Misalnya di sore hari, ibu bisa memandikan bayi di jam 4 atau 5 sore.

Demam bukan penyebab bayi tidak mandi. Menurut dr Atha, justru anak yang sakit mesti dijga kebersihan kulitnya supaya nanti tidak ada problem. Hanya saja, dalam kondisi anak demam, suhu air saat mandi dibuat sehangat atau mendekati suhu tubuh anak.

"Jangan pakai air dingin ya," ujar dr Atha.

"Kulit anak sangat sensitif. Jadi penting sekali mencari produk yang aman dan sudah teruji klinis supaya nggak timbul reaksi yang tidak diinginkan," kata dr Atha.

Ketika bayi tidak cocok dengan produk yang digunakan, tandanya akan lebih cepat terlihat. Contohnya, akan timbul reaksi yang tak lazim dari biasanya di kepala bayi ketika ia dipakaikan sampo yang tidak cocok.

"Pokoknya akan timbul reaksi di area yang terjadi kontak dengan produk tersebut. Kalau ini terjadi, stop dulu pemakaian produk itu, ibaratnya dinetralkan dulu," kata dr Atha.

Supaya mandi dan keramas jadi momen yang menyenangkan, buatlah suasana yang bisa membuat anak enjoy. Misalnya, sediakan beragam mainan kemudian ajak pula si kecil mandi sambil bermain. Intinya, kata dr Atha buatlah anak jadi tidak takut mandi.

Diungkapkan dr Atha, mata perih karena terkena sampo bisa menimbulkan trauma pada anak. Terlebih, pada dasarnya anak bisa merasa tidak nyaman ketika air mengenai mata mereka.

"Jangan lupa beri pijatan lembut, stimulasi sentuh untuk anak sehingga bonding makin lekat. Nggak hanya dilakukan ibu, mengeramasi bayi untuk mendekatkan bonding juga bisa dilakukan ayah atau anggota keluarga yang lain meski memang utamanya ayah atau ibu ya," tutur dr Atha.

(rdn/up)

Berita Terkait