Kamis, 13 Apr 2017 17:28 WIB

Masih Ada Saja Bayi Baru Lahir yang Diberi Nasi

Chaidir Anwar Tanjung - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Pelalawan - Umumnya bayi baru mendapat makanan pendamping air susu ibu (ASI) di usia 6 bulan. Tapi di daerah ini masih ditemukan bayi baru lahir yang langsung diberi nasi. Agar tidak terlalu keras, nasi tersebut dilumat dulu oleh sang ibu.

Di Kabupaten Pelalawan, Riau, masih ditemukan bayi baru lahir yang diberi makan nasi. Konon tujuan kegiatan ini adalah untuk keberkahan. Ini bukan berarti tiap hari bayi tersebut akan disuapi nasi, lantaran hanya diberikan sekali saja.

"Kita masih menemukan fenomena bayi baru lahir diberi makan nasi. Namun nasinya terlebih dahulu dikunyah ibunya, atau dilembutkan terlebih dahulu, baru diberikan ke bayinya," kata Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Pelalawan, dr Endit Romo Pratiknyo kepada detikcom, Kamis (13/4/2014).

Selain diberi nasi, kata dr Endit, ada juga warga yang memberikan air tajin. Jadi saat warga menanak nasi, airnya diambil sedikit dan diberikan ke si bayi.

"Mitosnya, pemberian itu dianggap untuk keberkahan si bayi. Fenomena ini menjadi tradisi yang terus turun menurun ke kalangan masyarakat pedesaan," sambung dr Endit.

dr Endit, Kadinkes Pelalawandr Endit, Kadinkes Pelalawan Foto: Chaidir A Tanjung

Fenomena lainnya, pada bayi yang baru lahir, bekas potongan tali pusarnya diberi kunyit. Kunyit ini ditumbuk halus atau dikunyah sang dukun bayi lalu diletakkan di pusar bayi.

"Warga meyakini, bahwa kunyit menjadi obat untuk bekas potongan pusar bayi tadi. Dan kondisi ini masih berlangsung sampai sekarang," imbuh dr Endit.

Tradisi yang masih dijalankan beberapa warga itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi jajaran Dinas Kesehatan Pelalawan. dr Endit menyebut, pihaknya terus melakukan pendekatan persuasif untuk memberikan pemahaman yang benar dalam penanganan bayi.

"Kita perlahan terus melakukan pendekatan ke warga untuk memberikan penyuluhan soal kesehatan. Kita sampaikan bahwa bayi dari usia nol hingga 6 bulan harus diberi ASI," papar dr Endit.

Begitu juga soal kunyit. Masyarakat masih menolak bila bidan desa memberikan antiseptik yang jauh lebih baik dari kunyit.

"Warga menganggap bahwa kunyit itu bagian dari antiseptik. Tetapi kan tidak bisa dijamin saat pembuatannya terbebas dari kuman bakteri," lanjut dr Endit.

Karena masih menemui aneka penolakan lantaran pemahaman turun-temurunnya bertolak-belakang dengan pemahaman medis, maka pihaknya harus banyak-banyak bersabar. Selain itu harus tak kenal menyerah memberikan pemahaman yang benar dari sudut kesehatan kepada masyarakat.

Masih menurut Endit, dulunya warga juga saat melahirkan harus merujuk pada dukun bayi. Posisi bidan hanya menjadi pedamping dukun beranak.

"Untuk proses kelahiran juga dulunya kita butuh waktu. Kalau dulu bidan desa mendampingi dukun beranak, sekarang ibu melahirkan ditangani bidan. Sedangkan dukun bayi tadi sebagai pendamping. Ini semua butuh proses dan kesabaran kita dalam memberikan pemahaman ke masyarakat," tutur dr Endit.

Apa yang dilakukan dr Endit dan jajarannya mulai membuahkan hasil. Perlahan masyarakat, umumnya yang tinggal di perkotaan, mulai meninggalkan kebiasaan memberikan nasi pada bayi baru lahir.

"Tapi di pelosok desa masih banyak yang menjalankan tradisi tersebut sampai sekarang. Kita akan terus berusaha tanpa kenal lelah untuk memberikan pemahaman kesehatan yang benar ke masyarakat," tutup dr Endit.

Perlu diingat, pemberian makanan padat secara sembarangan pada bayi di bawah enam bulan bisa membuat makanan tidak dapat dicerna dengan baik dan bisa menimbulkan reaksi seperti diare, sembelit atau konstipasi, serta timbulnya gas.

Baca juga: Ingat! Di Usia Satu Tahun ke Atas, Makanan si Kecil Tak Perlu Diblender

Dituturkan oleh dr Meta Hanindita SpA, ketika nekat memberi bayi makanan selain ASI sebelum usia 6 bulan tanpa ada indikasi tertentu, ada kondisi paling gawat yang bisa terjadi yaitu invaginasi atau intususepsi. Kondisi ini di mana suatu segmen usus masuk ke dalam bagian usus lainnya sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius.

"Bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Walau penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, namun hipotesis yang paling kuat karena pemberian MPASI yang terlalu cepat," ujar dr Meta dari RSUD Dr Soetomo Surabaya ini.

Baca juga: Ini Efeknya Jika Tanpa Saran Dokter MPASI Diberi Sebelum Anak Usia 6 Bulan (cha/vit)