Rabu, 26 Apr 2017 14:02 WIB

Terlambat Imunisasi, Masih Bisakah 'Dikejar' Saat Anak Besar?

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Salah satu permasalahan yang kerap terjadi di lapangan terkait pemberian imunisasi adalah ketidaksesuaian dengan jadwal. Termasuk di antaranya terlambat dari jadwal, tidak lengkap, atau bahkan anak tidak diimunisasi sama sekali. Jika demikian, bisakah imunisasi yang terlewat tersebut 'dikejar'?

Menurut dr Piprim B. Yanuarso, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, pemberian imunisasi yang tidak sesuai jadwal atau belum lengkap tersebut bukan merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Anak yang usianya sudah besar bisa mengejar tertinggalnya tersebut dengan tetap melengkapi imunisasi (catch up immunization).

"Ada yang namanya catch up, menyusul, kejar tayang. Anaknya sudah besar, bisa menyusul vaksinasinya. Nanti langsung diberikan, tidak lupa konsultasi dulu dengan dokter apa-apa saja vaksin yang masih bisa diberikan," tutur dr Piprim.

Baca juga: Dokter Tegaskan Vaksin HPV Tak Timbulkan Efek Samping

Ia menuturkan, tak semua vaksin bisa serta-merta diberikan pada anak yang usianya sudah besar. Tetap harus diperhatikan jenis vaksin dan jeda waktunya. Misalnya pada vaksin rotavirus, dr Piprim menyebutkan vaksin ini tidak bisa diberikan secara menyusul saat anak sudah besar karena batas waktunya hanya tiga bulan dari jadwal yang ada.

"Vaksin-vaksin seperti Hib kalau anak usianya sudah di atas lima tahun juga dianggap sudah tidak perlu lagi. Soalnya yang rawan itu anak usia di bawah lima tahun. PCV kalau usia anak sudah di atas lima tahun juga sudah tidak perlu lagi," imbuh dr Piprim.

Lain halnya dengan DPT, polio dan hepatitis B, dr Piprim menjelaskan bahwa vaksin-vaksin ini masih perlu diberikan walaupun terlambat. Jangan lupa untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, sebab beda usia beda pula dosis vaksinnya.

"Dosisnya beda ya. Vaksin bayi kalau diberikan pada dewasa reaksinya lebih hebat, vaksinasi dewasa itu antigennya lebih sedikit," tutur dr Piprim.

Baca juga: Hindari Meningitis pada Anak, Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?


(ajg/vit)