Seperti disampaikan oleh dr Piprim B. Yanuarso, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, drop out imunisasi benar adanya dapat membuat efektivitas dari vaksin tersebut menjadi tidak optimal. Salah satunya seperti PCV atau Pneumococcal Vaccine.
Sesuai jadwal imunisasi yang ada, vaksin ini diberikan sebanyak empat kali, ketika hanya diberikan dua kali maka tentu kekebalan yang diberikan juga akan menurun. Anak jadi tetap berisiko tertular suatu penyakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya harusnya 90 persen efektivitasnya kalau disuntik empat kali, ya berarti kalau disuntiknya hanya dua kali bisa turun jadi 50 persen saja," imbuh dr Piprim.
Selain PCV, efektivitas kekebalan juga bisa menurun pada imunisasi campak. Ketika pemberiannya tidak diulang seperti yang ditetapkan di jadwal, maka kekebalan yang diberikan pun jadi tak optimal.
"Campak itu bisa tetap kena kalau tidak diulang. Jadi campak kan diberikan pada usia 9 bulan dan 18 bulan, nanti di usia 5 tahun diulang lagi. Kalau berkali-kali kan kekebalannya jadi lebih tinggi. Kalau diberikannya cuma sekali misalnya pas usia 9 bulan, ya tetap berisiko tertular," tutur dr Piprim.
Baca juga: Demam Seperti Ini Wajar Dialami Anak Pasca Diimunisasi DPT
(ajg/vit)











































