Minggu, 09 Jul 2017 12:11 WIB

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Wajah Diah nampak pucat pasi. Anaknya yang masih balita, Nanda, sedang menangis sekencang-kencangnya di depan pintu Mandiri Daycare. Beberapa orang pengasuh pun mencoba membujuk Nanda agar mau masuk ke daycare dan berpamitan kepada ibunya yang hendak bekerja. Namun Nanda bergeming. Tangannya menggenggam erat lengan baju Diah yang mulai tampak kebingungan.

Dikatakan Diah, hal ini ia lalui setiap pagi ketika mengantar anaknya ke Mandiri Daycare. Diah yang merupakan pegawai di Bank Mandiri ini memang menitipkan anaknya di Mandiri Daycare setiap hari kerja, Senin sampai Jumat.

"Ini kebetulan dia lagi sumeng, kemarin memang suami saya sempat flu, mungkin ketularan. Makanya Nanda rewel banget hari ini, maunya digendong terus sama saya, padahal saya harus absen dan masuk kerja," ungkap Diah, saat ditemui di Plaza Mandiri, Jl Gatot Subroto, beberapa waktu lalu.

Diceritakan Diah, ia baru menitipkan anaknya di Mandiri Daycare kurang lebih dua bulan lalu. Keputusan menitipkan anak di daycare diambil setelah ia kapok mempekerjakan baby sitter. Dua kali memperkerjakan baby sitter, dua kali pula ia merasa anaknya diurus dengan kurang baik.

Keputusan menitipkan Nanda di Mandiri Daycare datang setelah ia mengamati anak-anak yang dititipkan di daycare diurus dan diasuh dengan baik. Perbincangannya dengan para ibu yang juga menitipkan anaknya di Mandiri Daycara membuatnya yakin mengambil keputusan ini.

"Kalau baby sitter kan kita cocok-cocokan, dan dua kali nggak cocok. Kebetulan saya lihat di Mandiri Daycare ini pengasuhannya baik, anak diajak main, bernyanyi, ada stimulasinya. Dan kata ibu-ibu yang lain anaknya dititipin di sini jadi lebih gampang bergaul, makanya saya memutuskan menitipkan anak di sini, selain karena memang masih berada di dalam lingkungan kantor," papar Diah lagi.

Diah hanyalah salah satu dari sekitar 2 juta lebih angkatan kerja perempuan yang ada di DKI Jakarta. Masalah yang mereka hadapi pun sama, yakni harus mengorbankan tanggung jawab untuk mengurus dan membesarkan anak demi mencari nafkah bagi keluarga.

Berdasarkan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk di DKI Jakarta pada tahun 2015 mencapai 10.117.924 jiwa. Proporsinya pun cukup seimbang untuk laki-laki dan perempuan, dengan masing-masing jenis kelamin memiliki jumlah sekitar 5 juta jiwa. Namun jika dilihat dari jumlah angkatan kerja, terdapat ketimpangan yang cukup signifikan.

Dari total 5 juta lebih angkatan kerja di Indonesia, hampir 3 juta di antaranya merupakan laki-laki. Sisanya yang berjumlah 2 juta orang merupakan perempuan, dengan jumlah yang terus meningkat. Berdasarkan survei BPS pada tahun 2013, diperkirakan ada penambahan jumlah angkatan kerja dari kalangan perempuan yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta


Secara nasional, total angkatan kerja di Indonesia berjumlah sekitar 114.000.000 jiwa. Dari angka itu, sekitar 38 persennya adalah angkatan kerja perempuan yang berjumlah sekitar 43,3 juta jiwa. 25 Juta di antara angkatan kerja perempuan tersebut masih berada di usia produktif, dan banyak dari mereka yang merupakan seorang ibu.

"Kalau dulu, mungkin bisa kebutuhan hidup terpenuhi dengan hanya ayah saja yang bekerja, sementara ibu tinggal di rumah dan mengurus anak. Namun realitanya sekarang, sangat sulit bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup jika hanya ayahnya saja yang bekerja. Mau tak mau, ibu pun harus turut mencari nafkah," tutur pakar psikologi keluarga dan rumah tangga dari klinik psikologi Tiga Generasi, Tiara Puspita.

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta


Dilema tersebut dialami oleh Sofia, seorang guru sekolah dasar di daerah Cempaka Putih, Jakarta Timur. Sofia merupakan ibu dari seorang putra berusia 1,5 tahun. Dengan suaminya yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan rental mobil, rata-rata pendapatan mereka jika digabungkan tak mencapai Rp6 juta per bulan.

"Kalau hanya suami saja yang bekerja nggak akan ketutup mas. Untuk bayar cicilan rumah saja Rp3 juta, cicilan motor Rp650 ribu, belum belanja, ongkos, bensin, dan keperluan rumah tangga lainnya," tutur Sofia yang masih berstatus guru honorer ini.

Untuk urusan mengasuh anak, Sofia mempercayakannya kepada orang tuanya yang tinggal di Utan Kayu. Setiap hari sebelum berangkat bekerja, Sofia menitipkan putranya untuk diasuh oleh ibunya. Saat pulang kerja sekitar pukul 3 sore, Sofia menjemput anaknya dan pulang ke rumah.

"Memang kesannya seperti merepotkan orang tua.Tapi gimana lagi? Kalau kita nggak kerja nanti malah anak nggak bisa makan. Alhamdulillahnya orang tua mau aja dan mereka nggak keberatan karena bisa sekalian ngemong cucu," katanya.

Pengalaman yang sama juga diceritakan oleh Yeyen, seorang ibu dua anak asal Condet, Jakarta Timur. Yeyen bekerja sebagai pramusaji di restoran cepat saji, sementara suaminya bekerja sebagai petugas ticketing maskapai penerbangan di bandar udara Halim Perdanakusuma. Setiap pagi, Yeyen mengantar anaknya yang sulung ke PAUD sebelum berangkat kerja. Sementara anaknya yang bungsu dititipkan ke tetangga yang ia bayar per bulan.

"Yang gede usianya sudah 4 tahun lebih, jadi sudah agak besar, bisa ditinggal di PAUD sendiri. Yang kecil umurnya baru 7 bulan. Masih dikasih ASI perah. Saya titipkan ke tetangga untuk diasuh dari pagi sampai sore. Nanti kalau PAUD sudah selesai, tetangga saya itu juga jemput anak yang sulung. Saya bayar sebulannya dia Rp750 ribu," ungkap Yeyen.

Daycare: Solusi Bagi Ibu Bekerja

Rosdiana Setyaningrum, psikolog anak dan keluarga dari DZone Therapy Center mengatakan ada tiga opsi yang bisa dilakukan ibu untuk mengatasi masalah pengasuhan anak ketika bekerja. Pertama adalah menitipkan anak kepada kakek, nenek, ataupun kerabat keluarga lain. Opsi ini biasa dilakukan oleh ibu yang tinggal dekat dengan keluarga besarnya, dengan catatan kerabat keluarga tersebut sudah pensiun atau tidak bekerja.

Kedua adalah menyewa babysitter khusus anak. Opsi ini sempat populer karena selain memiliki pengalaman dan ilmu dasar mengurus anak, babysitter juga bisa membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai persetujuan. Namun maraknya pemberitaan soal penganiayaan anak serta alasan keamanan membuat sebagian ibu riskan menggunakan jasa babysitter.

Terakhir adalah menitipkan anak di Tempat Penitipan Anak (TPA) atau daycare. Daycare menjadi opsi populer karena selain dekat dengan kantor ibu, tenaga pengasuh yang ada di daycare sudah terlatih dan bisa memberikan stimulasi maksimal bagi tumbuh kembang anak.

"Pilihannya kembali lagi kepada masing-masing orang tua, sesuai dengan kemampuan dan kondisi keluarga masing-masing. Tapi bagi yang tinggalnya tidak dekat dengan kakek dan nenek, atau was-was jika anak ditinggal dengan babysitter, maka daycare adalah pilihan terbaik," ungkap Diana.

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta


Pemilihan daycare sebagai tempat penitipan anak didasari oleh beberapa penelitian. Studi yang dilakukan oleh National Institute of Child Health and Human Development's (NICHD) kepada 1.000 anak menyebut daycare membantu anak mengembangkan kemampuan kognitif dan bahasa yang lebih baik. Efek paling besar dirasakan oleh anak-anak dari keluarga menengah ke bawah, di mana sebagian besar waktu orang tua dihabiskan untuk bekerja dan anak jarang mendapat stimulasi di rumah.

Studi lainnya yang dilakukan di Finlandia pada tahun 2013 menyebut anak-anak yang dititipkan di daycare memiliki kemampuan sosial yang lebih besar daripada anak-anak lain seusianya. Mereka lebih mudah beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang dewasa, termasuk dengan orang tua.

Terakhir, studi yang dilakukan kepada sekitar 120 anak di Inggris menyebut menitipkan anak di daycare tak membuat hubungan antara anak dan orang tua merenggang seperti yang ditakutkan. Justru dengan bergabung di daycare, anak memiliki pengalaman harian yang nantinya bisa diceritakan kembali kepada orang tua.

"Banyak keuntungan yang bisa didapat di daycare, dengan syarat ibu tak boleh lepas tangan dalam pengasuhan anak. Ingat ya, daycare bukan pengganti ibu, nenek bukan pengganti ibu dan babysitter juga bukan pengganti ibu. Tidak ada peran yang bisa menggantikan ibu untuk hal pengasuhan anak," paparnya.

Turut bekerja dan mengambil peran sebagai pencari nafkah ditambah dengan tanggung jawab untuk mengurus dan membesarkan anak rentan membuat ibu menjadi stres. Menurut Tita, ibu yang bekerja sering kali mengalami stres akibat kekurangan waktu.

Saat di kantor, mereka memiliki pekerjaan sesuai fungsinya sebagai karyawan. Ketika di rumah, pekerjaan mengurus rumah tangga pun sudah menunggu. Akibatnya, ibu yang bekerja sering merasa kekurangan waktu untuk diri sendiri.

"Di kantor ada beberapa hal yang menyebabkan ibu kepikiran dan sebaliknya misalkan di rumah, ibu juga bisa memikirkan pekerjaan di kantor jadi akhirnya mereka stresnya itu nggak bisa menikmati waktunya sehingga nggak fokus sama kedunya (pekerjaan dan mengurus anak -red) jadinya nggak happy," jelasnya.

Dampaknya, ibu bisa saja melampiaskan stresnya kepada anak di rumah dan lebih sering marah. Hal ini membuat anak menjadi takut kepada ibu, dan bisa jadi ia berpikiran bahwa kehadirannya hanyalah sebagai beban orang tua. Yang lebih parah, ibu yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya bisa saja membuat anak kurang diperhatikan dan diurus, yang membuat anak merasa tidak disayang ketika berada di rumah.

Di sini, menitipkan anak di daycare merupakan solusi. Dalam sebuah survey yang dilakukan pada ibu bekerja di Amerika Serikat pada tahun 2012, 65 persen ibu yang menitipkan anaknya di daycare merasa lebih mampu mengontrol emosinya dengan baik. Mereka juga lebih jarang membawa pulang pekerjaan ke rumah dan memiliki nilai skor yang baik dalam hubungan keeratan dengan anak.

Survei yang dipublikasikan di jurnal JAMA Pediatrics ini menyebut persentase lebih rendah didapat dari ibu yang menyewa baby sitter, dengan angka 42 persen. Di sisi lain, menitipkan anak di orang tua cukup mampu membuat ibu mengontrol emosinya di rumah, namun nilai skor dalam hubungan keeeratannya dengan anak lebih rendah.

Meski begitu, bukan berarti ibu yang bekerja tidak memiliki efek positif bagi anak. Diana menyebut ibu bekerja memiliki beragam efek positif. Salah satunya, ibu jadi lebih up to date soal kondisi terkini. Dengan begitu, ibu bisa menjadi teman ngobrol yang baik untuk anak serta tidak dianggap kuno atau ketinggalan jaman.

Bagi psikolog yang akrab disapa Diana ini, mengetahui informasi kekinian sangat penting agar anak memiliki respek yang tinggi kepada orang tua. Dengan bekerja, tentu ibu menjadi lebih pekar terhadap perkembangan zaman dan isu-isu terkini. Terlebih, anak kini sangat mudah mendapatkan informasi apapun dari internet.

"Karena bekerja, jadi paham bagaimana cara menangani orang, punya skill interpersonal, pengetahuan yang lebih luas. Anak-anak lihat ibunya punya achiement jadi lebih respect. Kalau tidak kerja, ibu dianggap nggak tahu apa-apa karena hanya ngasih makan, minum dan antar jemput saja, tidak bisa ngobrol karena dianggap ibu tidak tahu," tutup Diana.

(mrs/up)
News Feed