Tidak seperti tes-tes sebelumnya, dokter tidak perlu tahu dengan spesifik gen mutasi yang terlibat di dalamnya. Dalam waktu yang bersamaan, embrio dapat dicek untuk mengetahui apakah dalam keadaan genetik yang baik atau tidak.
Namun para ahli mengatakan, akan ada pembatasan yang ketat untuk tes tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya dibutuhkan 3 hari untuk melakukan tes ini, lebih cepat dari tes biasa yang memerlukan waktu seminggu bahkan sebulan.
Karyomapping dapat mendeteksi 15.000 gen cacat pada setiap orang. Melalui tes ini juga seorang dokter dapat melihat adanya kromosom yang hilang atau kromosom ganda yang menandakan embrio tersebut tidak dapat hidup.
Profesor Alan Handyside dari London's Bridge Centre yang mengembangkan tes tersebut untuk membantu beberapa keluarga, seperti dikutip dektikhealth dari BBC News, Jumat (3/7/2009) mengatakan bahwa tes tersebut sukses 100% dalam mengetahui embrio yang terkena cacat, salah satunya karena mutasi gen alami.
Dalam konferensi pers yang diwakili oleh European Society of Human Reproduction and Embryology, para peneliti mengungkapkan bahwa mereka berhasil menemukan kromosom abnormal pada sebuah embrio yang dapat berdampak buruk terhadap kehamilan sang ibu.
Namun seiring keberhasilan tes tersebut, isu menyangkut kode etik pun muncul. Tes tersebut dianggap melanggar kode etik karena cenderung merekayasa gen bayi.
Namun Prof. Handyside membantah hal tersebut dan menyebutkan bahwa tes ini sangat berguna untuk mengetahui penyebab genetik pada anak autis, yang kasusnya terjadi 5% pada anak-anak autis.
"Adanya tes ini membuat kita mengetahui informasi lebih banyak tentang gen manusia dan dapat dijadikan acuan untuk pengobatan ke depannya, tidak ada maksud untuk sengaja merekayasa gen bayi," jelas Ketua British Fertility Society Professor, Tony Rutherford yang menanggapi isu tersebut.
(fah/ir)











































