ADVERTISEMENT

Selasa, 07 Jul 2009 19:21 WIB

Penyakit Paru Obstruktif Kronik Makin Jadi Ancaman

- detikHealth
Jakarta - Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah gejala bronkitis dengan kategori yang lebih berat. PPOK makin menjadi ancaman dan WHO memprediksi pada 2020, PPOK akan menjadi penyebab kematian ke 3 di dunia.

PPOK adalah penyakit pada organ paru karena adanya hambatan pada saluran pernafasan yang menahun. Biasanya ditandai dengan gejala batuk yang lebih dari 3 bulan, sesak nafas, berdahak, nafas bunyi, dan rasa tidak nyaman di dada.

"Penyebab utama PPOK adalah asap rokok dan polusi udara," ujar Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K) FCCP yang merupakan dokter spesialis pulmonologi, pada acara Seminar Bronkitis Kronik dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RS ASRI, Jakarta 4 Juli 2009.

PPOK bisa berdampak pada gejala yang meningkat, fungsi paru yang menurun, kualitas hidup turun, dan bisa berdampak pada kematian dini.

PPOK bukanlah penyakit menular dan biasanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak jarang menderita PPOK karena penyakit ini disebabkan oleh efek akumulasi dari zat-zat kimia yang berasal dari asap rokok, polusi udara, serta paparan dari bahan-bahan iritan ditempat kerja.

PPOK juga bisa disebabkan oleh kurangnya enzim alpha-1 antitrypsin. Enzim ini berfungsi untuk menetralkan tripsin yang berasal dari rokok. Jika enzim ini rendah dan asupan rokok tinggi maka akan mengganggu sistem kerja enzim tersebut yang bisa mengakibatkan infeksi saluran pernafasan.

"Untuk mengetahui PPOK bisa diukur dengan menggunakan spirometri untuk memastikan adanya penyempitan saluran napas dan menentukan beratnya penyempitan," ujar dokter lulusan spesialis paru FK-UI tahun 1971 ini.

"Jika PPOK berlangsung lama maka bisa menyebabkan penyakit jantung, karena akan membebani jantung kanan yang berfungsi mengalirkan darah ke paru-paru, sehingga menimbulkan komplikasi," ujar Dr. Kasim Rasjidi Sp.PD-KKV, DTM&H, MCTM, MHA, SpJP, FIHA yang merupakan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS ASRI.

Gejala yang ditimbulkan jika PPOK telah merusak jantung adalah rasa lelah, sesak nafas, batuk, nyeri dada, batuk berdarah, gejala syaraf seperti kurang konsentrasi, pelupa, depresi dan jantung berdebar-debar.

"Pengobatan yang dilakukan adalah dengan berhenti merokok, rehabilitasi medik, memperbaiki pola pernafasan dengan mengetahui bagaimana mengeluarkan lendir yang efisien, meningkatkan daya tahan tubuh dengan parameter berjalan kaki selama 6 menit dan melihat berapa jarak yang bisa ditempuh, dan secara farmakologi," ujar Prof. dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K) FCCP.

"Jika batuk yang dialami sudah berat dan mengganggu waktu tidur, demam yang berlangsung lama, ada kronik pada paru, serta bronkitis yang berulang sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk memastikan terkena PPOK atau tidak," ujar dokter yang berpraktik di RS ASRI ini.

Hal yang harus dilakukan untuk mencegahnya adalah menjaga udara dirumah tetap bersih, hindari tempat yang penuh asap rokok dan debu kendaraan, jangan memasang obat nyamuk didalam kamar, jaga kebugaran, dan berhentilah merokok.

Rekomendasi Obat


(ver/ir)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT