"75 juta laki-laki pernah mendatangi pekerja seks, 50 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang pernah datang ke pekerja seks, 10 juta wanita pekerja seks, 10 juta laki-laki menggunakan narkoba, dan 10 juta pasangan gay pernah berhubungan seks," ujar Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH selaku sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Senin (6/7/2009).
Penyebaran HIV saat ini masih terfokus pada penularan melalui perilaku berisiko seperti penggunaan jarum suntik secara bergantian, perilaku seks yang tidak aman baik pada hubungan heteroseksual maupun homoseksual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proporsi penularan HIV melalui hubungan seksual (baik heteroseksual maupun homoseksual) mencapai 60%, sedangkan melalui jarum suntik sebesar 30%, dan sebagian kecil tertular melalui ibu dan anak pada proses kehamilan, dan transfusi darah," ujar Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH.
Kecenderungan penularan infeksi HIV diseluruh provinsi hampir sama, kecuali di Papua yang mayoritas diakibatkan oleh hubungan seksual berisiko tanpa kondom yang dilakukan kepada pasangan tetap maupun tidak tetap.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan sampai dengan Maret 2009 dilaporkan bahwa penderita AIDS pada usia 15-19 tahun sebesar 3,08%, usia 20-29 tahun sebesar 50,50%, usia 30-39 tahun sebesar 29,46%, dan usia 40-49 tahun sebesar 8,41%.
Ternyata penularan HIV paling banyak pada usia produktif yaitu 15-29 tahun yang mencapai lebih dari 50%.
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki serta kelompok waria sangat rentan tertular IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV akibat perilaku hubungan seksual yang tidak aman, baik yang dilakukan secara genital, anal, maupun oral.
Rendahnya penggunaan kondom konsisten pada setiap perilaku hubungan seksual di kalangan tersebut, juga menyebabkan tingginya penularan IMS pada kelompok tersebut.
Anak-anak di bawah usia 18 tahun biasanya terinfeksi melalui penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian.
Pengenalan untuk remaja bisa berasal dari orang tua, asalkan ada komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak, dari sekolah melalui life-skill education atau sex education, serta empowering yang paling bagus melalui sesama remaja atau teman yang dapat mereka percaya.
"Pada remaja empowering yang baik di lingkungan bukan empowering di orangnya," ujar Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH.
"Untuk bisa melawan virus ini, dibutuhkan kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan dunia internasional," ujar Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM sebagai ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia dan Ketua Panitia Penyelenggara ICAAP ke 9.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi penyebaran AIDS yaitu dengan memperluas jaringan untuk melakukan test dan konsuling, mengurangi stigma tentang ODHA (orang yang hidup dengan AIDS), dan menyakinkan masyarakat tentang sarana dan pengobatan yang sudah ada. Serta dibutuhkan juga peran dari para tokoh agama setempat.












































