"Berdasarkan data WHO Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Sementara di Indonesia sendiri penderita diabetes tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara sebesar 11,1%," ujar Prof. Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE, Rabu (15/7/2009).
Dr Sidartawan menjelaskan, diabetes terbagi menjadi dua tipe yaitu:
Diabetes Tipe 1
Penderita diabetes ini disebabkan oleh adanya kelainan pada pankreas yang menyebabkan pankreas tidak bisa memproduksi insulin. Sehingga pasien dengan tipe ini hanya bisa diterapi dengan insulin. Pasien diabetes tipe 1 bisa diprediksi dari usia anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penderita diabetes ini disebabkan oleh hormon insulin yang tidak bekerja dengan baik atau tidak dihasilkan hormon insulin yang cukup. Sehingga kadar gula darahnya menjadi tinggi dan bisa menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Diabetes tipe 2 biasanya muncul setelah dewasa, namun ada juga yang sudah mengidap sejak usia 15 tahun. Biasanya disebabkan oleh pola hidup dan adanya faktor genetik.
"Penyakit diabetes tipe 2 merupakan yang paling banyak dijumpai di Indonesia biasanya disebabkan oleh faktor turunan. Jika salah satu orang tua mengidap diabetes maka hampir 90% anaknya juga menderita diabetes tergantung dari gaya hidup anak itu sendiri," tambah Profesor yang menjadi anggota American Diabetes Association (ADA).
Diabetes bisa dikenali dengan gejala-gejala sering minum, sering buang air kecil, banyak makan, berat badan berkurang dan sering mengalami kelelahan.
"Saat ini tidak ada obat untuk menyembuhkan diabetes, yang ada hanya obat untuk menurunkan kadar gula darah agar tidak terjadi komplikasi pada pembuluh darah besar dan kecil," ujar dokter kelahiran Amsterdam 64 tahun silam ini.
Dr. Sidartawan menjelaskan sebanyak 30% penderita diabetes melitus mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% harus menjalani amputasi tungkai kaki. Bahkan diabetes melitus membunuh lebih banyak dibandingkan dengan HIV-AIDS. Biasanya pasien yang meninggal bukan karena diabetesnya melainkan akibat komplikasi dari diabetes tersebut.
Komplikasi pada penderita diabetes bisa menyerang pembuluh darah besar (makro) yang mengakibatkan penyakit jantung, stroke jika menyerang otak dan cacat atau amputasi kaki. Untuk pembuluh darah kecil bisa mengakibatkan kebutaan jika menyerang mata, dan gagal ginjal. Komplikasi yang lain bisa mengakibatkan impotensi pada pasien pria.
"Untuk mencegah komplikasi tersebut perlu dilakukan kontrol terhadap gula darah, tekanan darah, dan kolesterol," tambahnya.
Dr. Sidartawan menguraikan terdapat beberapa faktor yang turut berperan pada penyakit diabetes yaitu:
Gaya Hidup
Gaya hidup yang tidak sehat seperti tidak pernah olahraga, sering mengkonsumsi junk-food, tidak mengontrol pola makan, dan merokok akan menyebabkan seseorang terkena diabetes.
Stres
Jika seseorang mengalami stres, maka tekanan darah akan meningkat dan dapat meningkatkan kadar gula dalam darahnya.
Post-meal hyperglycemia
Gula darah sesudah makan merupakan kontributor utama bagi terbentuknya nilai hemoglobin glikat (HbA1C). HbA1C merupakan hasil nilai gabungan dari nilai gula darah puasa (sebelum makan) dan sesudah makan. Nilai dari HbA1C bagi pasien diabetes setelah makan tidak boleh melebihi 140mg/dL.
Untuk mendeteksi penyakit diabetes perlu dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Namun, untuk mengontrol gula darah bisa dilakukan dengan menggunakan alat monitor gula darah, tapi bukan untuk diagnosis.
Untuk menghindari atau mencegah diabetes bisa melakukan tips berikut:
- Konsumsi makanan dengan diet seimbang.
- Hiduplah secara aktif.
- Olahraga teratur selama 30 menit setiap hari.
- Kendalikan stres.
- Terapkan gaya hidup sehat.











































