Rabu, 29 Jul 2009 15:02 WIB

Rimpang Kunyit Buat Nyeri Sendi

- detikHealth
Yogyakarta - Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi yang terjadi akibat degenerasi tulang rawan sendi, perubahan pada tulang subkondral dan peradangandi dalam sendi. Penyakit ini timbul akibat kondisi yang menua dan adanya trauma. Gejala yang sering dirasakan yakni adanya keluhan reumatik pada usia lanjut.

Penyakit ini paling banyak dijumpai di masyarakat karena merupakan penyebab utama gangguan muskuloskeletal di seluruh dunia dan menjadi penyebab ketidakmampuan fisik terbesar kedua setelah penyakit jantung untuk usia di atas 50 tahun.

WHO memperkirakan 400 per seribu populasi dunia yang berusia di atas 70 tahun menderita osteoartritis dan 800 per seribu pasien (OA) mempunyai keterbatasan gerak baik ringan sampai berat yang mengurangi kualitas hidup mereka. Osteoartritis terdapat di seluruh dunia dengan prevalensi kurang dari 50 orang per seribu penduduk pada populasi berumur di bawah 45 tahun.

Sendi yang paling sering terserang osteoartritis adalah sendi penyangga berat badab seperti sendi lutut dan sendi panggul. Secara umum gejala klinis muncul dengan nyeri sendi saat aktivitas, nyeri sendi malam hari, kaku sendi dan kadang terjadi pembengkakan sendi yang terserang.

"Pemberian kurkuminoid ekstrak rimpang kunyit mengurangi rasa nyeri sendi yang terserang osteoartritis dengan kemampuan yang tidak berbeda dibandingkan obat yang mengandung natrium diklofenak," kata dr. Nyoman Kertia, Sp-PD saat ujian terbuka di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM, di Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (29/7/2009).

Menurut Nyoman, kurkuminoid dapat menghambat sekresi enzim siklogenase-2 (COX-2) dan Reactive Oxygen Intermediate (ROI), mengurangi angka leukosit dan kadar MDA cairan sinovia yang bisa menyebabkan OA.

Sementara obat anti-inflamasi nonsteroid paling banyak diresepkan oleh dokter di seluruh dunia khususnya untuk pengobatan kelainan muskiloskeletal yang disebabkan OA. "Obat sejenis ini hanya mampu menekan inflamasi dan nyeri namun tidak mampu menghambat perjalanan penyakit OA," kata staf pengajar Bagian Ilmu Penyakit Dalam itu.

Nyoman mengatakan ada beberapa obat anti-inflamasi nonsteroid yang diperlukan untuk menekan gejala klinis OA, namun ternyata bersifat toksik terhadap kondrosit sehingga memperburuk penyakit itu sendiri. Secara umum memiliki efek samping yang cukup banyak khususnya pada saluran cerna, dapat mengganggu fungsi hati, ginjal,
sumsum tulang dan sistem kardiovaskuler.

"Justru ini akan menambah biaya dan mengurangi kualitas hidup pasien tersebut," ungkap dia.

Menurut dia, secara umum penderita OA sepanjang hidupnya memerlukan pengobatan, khususnya obat anti inflamasi. Sebab belum ada obat yang bisa menyembuhkan sehingga penyakit ini berlangsung kronik. Kurkumoid adalah metabolit sekunder yang terdapat di dalam rimpang kunyit dan temulawak, yaitu jenis kurkuma yang telah dimanfaatkan masyarakat sebagai bumbu dan komponen jamu.

"Khasiatnya beraneka ragam sehingga dapat dipergunakan untuk mengobati berbagai penyakit termasuk penyakit reumatik," kata pria kelahiran Buleleng, 16 September 1960.

Sedangkan aktivitas anti-inflamasi kurkumin kata dia, melalui tiga jalur yaitu menekan aktivitas enzim siklosigenase, enzim lipoksigenase dan sebagai penangkal radikal bebas. "Kemampuan kurkumin ini sangat sangat penting, karena dua jalur yang paling berperan dalam proses inflamasi sendi adalah jalur siklosigenase dan aktivitas radikal bebas," katanya.

(bgs/ir)