Rheumatoid Arthritis yang Misterius

Rheumatoid Arthritis yang Misterius

- detikHealth
Jumat, 31 Jul 2009 13:00 WIB
Rheumatoid Arthritis yang Misterius
Jakarta - Penyakit reumatik hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Penyakit ini sangat progresif, apabila tidak diobati dengan benar maka dalam waktu 2 tahun akan menyebabkan cacat sendi permanen.

Reumatik, atau dalam bahasa kedokterannya Rheumatoid Arthritis (RA), merupakan penyakit autoimun, yaitu penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada fungsi normal dari sistem imun tubuh sehingga jaringan tubuh menjadi tidak sehat.

Prof DR dr Harry Isbagio SpPD-KR, K-GER dalam menjelaskan, prevalensi penyakit RA di Indonesia sebenarnya tidak tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun penyakit ini sangat progresif, apabila tidak diobati dengan benar maka dalam waktu singkat (2 tahun) akan terjadi cacat sendi permanen," ujar Dr Harry dalam sebuah seminar rematik seperti ditulis Jumat (31/7/2009).

Data tahun 2004 menunjukkan bahwa penderita RA di Indonesia mencapai 2 juta orang, jumlah yang kecil dibanding penderita negara India.

Penyakit yang menyerang lebih banyak kaum wanita ini dapat dideteksi ketika seseorang memiliki ciri-ciri kemerahan, kaku, nyeri, dan terbatasnya gerakan pada sendi di tangan, kaki, siku, lutut dan leher. Peradangan sendi pada penderita RA dapat berakibat pada hilangnya fungsi sendi, bahkan hilang fungsinya secara permanen.

Faktor yang hingga saat ini dicurigai menyebabkan RA adalah infeksi kuman dan faktor genetik. Namun hingga kini belum diketahui virus atau bakteri mana yang menjadi penyebabnya. Merokok pun diduga merupakan faktor pemicu RA.

Penyakit RA memang masih misteri, namun beberapa ahli menyatakan bahwa timbulnya RA tidak hanya disebabkan satu faktor saja, tetapi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi.

Umumnya pasien mengeluh nyeri dan kaku sendi pada pagi hari, kurang lebih 60 menit, dan hampir terjadi setiap hari. Sendi-sendi yang terserang seringkali adalah sendi-sendi kecil (tangan/pergelangan tangan), dan umumnya menyerang bagian tubuh kiri dan kanan.

"Namun sendi lain di tubuh juga bisa terkena, seperti sendi leher, bahu, siku, pinggul, lutut, pergelanngan kaki dan buku-buku jarinya," ungkap Dr Harry.

Tapi para penderita RA tidak perlu khawatir, sebuah terobosan baru di bidang pengobatan saat ini sedang dikembangkan. Upaya pengobatan tersebut adalah dengan menggunakan biologic agent seperti etanercept.

Dr Harry menjelaskan, Etanercept merupakan obat biologis yang menangkap atau menghambat suatu protein dalam tubuh yang dinamakan tumor necrosis factor alpha atau TNF alpha. TNF alpha inilah yang menjadi sumber peradangan pada persendian. Ketika TNF alpha tersebut terikat oleh etanercept, maka peradangan pun terhambat.

Mengingat penyakit RA berlangsung dalam waktu yang lama, maka pengobatannya pun memakan waktu yang cukup lama. Dr Harry mengingatkan, kunci keberhasilan pengobatan RA ialah diagnosa dini dan pengobatan awal yang progresif.

"Penyakit RA tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol sampai tercapainya tingkat remisi (sembuh sementara)," ujarnya.

Reumatik memang penyakit yang menyiksa, namun jika kita dapat mengatasinya sejak dini, penderitaan yang dirasakan pun dapat dikurangi.

Kombinasi dari obat-obatan, latihan yang menguatkan sendi serta pendidikan bagi para penderita adalah paket penyembuhan yang efektif untuk melawan penyakit RA.

Rekomendasi Obat


(fah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads