Akibatnya dokter tidak mempunyai database yang lengkap mengenai pasien. Karena itu diperlukan dokter keluarga yang memiliki database dan rekam medis pasien yang lengkap sehingga bisa mengurangi kesalahan diagnosis.
"Dokter keluarga konsepnya adalah adanya personal care, dokter tidak hanya bertemu pasiennya saat sakit saja, tapi juga saat sehat dimana pasien bisa konsultasi secara bebas dengan dokternya tanpa waktu yang terbatas," ujar dr. Fachmi Idris, pada acara Talkshow "Pentingnya Dokter Keluarga", di Klinik KBR68H Utan Kayu, Jakarta, Selasa (4/8/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsep dari dokter keluarga adalah dalam suatu wilayah yang terdapat 2500 orang dipegang oleh 1 dokter keluarga, dan dalam dokter keluarga ini terdiri dari 1 dokter umum, suster keluarga, administratur dan tiap beberapa dokter keluarga terdapat apotek keluarga.
Sistem yang diterapkan dalam dokter keluarga ini adalah, setiap orang membayar iuran sebesar Rp 10.000 setiap bulannya yang nantinya jika ingin berobat atau berkonsultasi dengan dokter tidak mengeluarkan uang sama sekali. Kecuali jika penyakitnya sudah parah dan harus dirujuk ke rumah sakit. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat tersebut
Menurut Fachmi Idris, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh dokter keluarga, yaitu:
- Bisa menyembuhkan, diharapkan dengan dokter keluarga semakin sedikit orang yang harus berobat ke rumah sakit.
- Pemimpin komunitas, yaitu menjadi pemimpin untuk menjalankan pola hidup sehat bisa dengan mengajak senam bersama setiap seminggu sekali atau apapun.
- Komunikator, yaitu bisa menjadi penghubung atau menyampaikan masalah yang terjadi dengan pasiennya, misalnya menyampaikan masalah kesehatan ke pemda setempat agar bisa segera ditangani.
- Pembuat keputusan yang baik, yaitu bisa membuat keputusan yang baik dan tepat untuk pasiennya.
- Manager, yaitu bisa memanage kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya.
"Dalam konsep dokter keluarga yang harus diterapkan adalah personel care, primary care, continue care dan comprehensive care," ujar dr. Fachmi Idris yang juga menjabat sebagai Ketua IDI.
Untuk melihat keberhasilan dari dokter keluarga ini dilihat dari jumlah pasien yang dirujuk ke rumah sakit. Jika banyaknya masyarakat yang sebelumnya masuk ke zona risiko atau sakit lalu berubah ke zona sehat, maka dokter keluarga tersebut berhasil. Namun, jika minimal 5 persen dari masyarakat tersebut masuk ke rumah sakit berarti dokter keluarga tidak berhasil, sehingga harus dievaluasi apa yang salah dengan dokter keluarga tersebut.
"Diharapkan pada tahun 2018 dokter keluarga ini sudah bisa diterapkan diseluruh daerah di Indonesia, karena pada tahun tersebut sumber daya manusianya termasuk dokter umum sudah memenuhi untuk menangani masyarakat Indonesia dan sistemnya diharapkan juga sudah bisa diterapkan," ujarnya.
Untuk itu diharapkan bisa mulai menyehatkan Indonesia dari keluarga-keluarga yang sehat, dan bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.












































