Sebuah perusahaan multinasional di Amerika Serikat yang bergerak di bidang agribisnis dan bioteknologi pertanian, Monsanto berusaha membantu langkah antisipasi pandemi flu burung di Indonesia dengan mengucurkan dana sebesar 50.000 dolar Amerika Serikat.
Antisipasi pandemi flu burung ini dilakukan mengingat kasus mortalitasnya yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari flu babi. Menurut data Depkes hingga Agustus 2009 ini, dari 156 kasus flu burung yang teridentifikasi, 129 diantaranya meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Flu burung memang berbeda dengan flu babi. Jika flu burung memiliki tingkat morbiditas rendah dan mortalitas tinggi, flu babi justru sebaliknya," ujar Memed Zulkarnain Hasan, Koordinator Bidang Komunikasi Komnas Pengendalian Flu Burung Indonesia (Komnas FBI) dalam acara kerjasama Muhammadiyah dan Monsanto dalam Menghadapi Pandemi Flu Burung di gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (11/8/2009).
Dana yang disumbangkan Monsanto nantinya akan digunakan untuk program-program sosialisasi, pelatihan dan penanganan flu burung, khususnya di desa Sukamanis, Tangerang.
Kegiatan-kegiatan itu difasilitasi oleh PP Muhammadiyah yang memang sudah sejak lama mengadakan kegiatan-kegiatan peningkatkan kesehatan untuk masyarakat.
Hendrawan Rusli sebagai Quality Enviroment Safety and Healthness (QESH) Manager dari Monsanto menyebutkan bahwa program bantuan yang diberikan Monsanto sudah dimulai dari Januari 2009 dan akan berakhir Januari 2010.
Ketika ditanya mengapa flu burung yang menjadi fokus perhatian, bukan flu babi, Hendrawan menjelaskan bahwa program itu sudah ada sebelum flu babi muncul.
"Flu babi baru muncul April 2009, hal ini tidak diduga-duga. Tapi untuk ke depannya hingga program ini berakhir, kami berusaha juga melakukan sosialisasi tanggap flu babi," ujar Hendrawan.
Alasan mengapa desa Sukamanis, Tangerang yang dipilih Monsanto, Hendrawan mengaku hal ini ada kaitannya dengan letak perusahaan Monsanto cabang Indonesia yang memang berada di kawasan Tangerang.
"Kami ingin menjadi pionir dan contoh yang baik untuk masyarakat, dan kami juga tentunya tidak ingin karyawan kami yang tinggal atau mengontrak di daerah-daerah yang memang rawan terkena flu burung terkena virus tersebut," tutur Hendrawan.
Menurutnya, Tangerang merupakan daerah hot spot, dimana kasus flu burung yang tercatat disana cukup tinggi. "Tangerang adalah kawasan padat industri dan tingkat kesehatan masyarakat disana masih kurang. Tangerang termasuk dalam 3 dari 10 kota yang paling parah terkena kasus flu burung sejak merebaknya virus tersebut 2003 yang lalu," ujar Hendrawan.
Ketua program Tim Penanggulangan Flu Burung Muhammadiyah, Ir. Sularno, M.Si pun menyebutkan bahwa program-program yang dilakukan di desa Sukamanis antara lain training kader, pertemuan rutin dengan 300 kepala keluarga, penyemprotan kandang dan community event, dengan mengadakan lomba-lomba seperti jalan santai, kerja bakti, lomba masak dan cerdas cermat tentang Avian Influenza.
"Program-program tersebut ternyata menghasilkan respons yang baik. Jumlah penderita flu burung menurun dan perilaku masyarakat disana pun menjadi lebih sehat dan bersih," ujar Sularno.
Ketika ditanya apakah program yang dibuat Monsanto ada kaitannya dengan usaha sosialisasi dan penyadaran masyarakat tentang produk-produk Genetically Modified Organism (GMO) yang notabennya diproduksi Monsanto dan masih kontroversial, Sularno pun membantah hal tersebut.
"Sepertinya tidak ada kaitannya, itu dua hal yang berbeda jalur. Ini kan masalah penanganan penyakit, sedangkan GMO itu masalah pertanian. Lagipula produk-produk GMO itu kan belum terbukti penyimpangannya, sebagai orang akademisi sebaiknya melihat segala sesuatunya dari fakta dan bukti, kalau tidak ada bukti sama saja dengan pelacuran ilmu pengetahuan," ujar Sularno yang juga merupakan dosen di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah, Jakarta.











































