"Saya merasa sangat menderita, sakit sekaligus malu karena mental saya terganggu, begitu juga halnya dengan kehidupan sosial dan seks saya," ujar wanita berusia 58 tahun asal Gauteng, Afrika Selatan seperti dikutip dari Health24, Senin (14/9/2009).
"Saya juga selalu merasa cemas kalau-kalau orang lain melihat bahkan mencium air kencing saya. Saya malu keluar rumah dan hal itu mengubah kepribadian saya. Saya menjadi sangat anti sosial, gampang tersinggung dan lelah," ujar Esmeralda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama hidupnya, Esmeralda telah melalui berbagai jenis operasi. Namun baru operasi kali inilah yang berhasil menghentikan air kencingnya keluar terus menerus. Operasi tersebut dilakukan dengan memasukkan trans-vaginal tape (TVT) pada posisi normal uretra. Dalam 2 minggu air kencing Esmeralda keluar dengan normal.
"Saya merasa seperti orang baru. Saya bisa pergi kemana saja, belanja, olahraga bahkan naik kuda," tutur Esmeralda.
Urinary Incontinence dialami oleh 8 persen wanita dan 3 persen laki-laki, penyebabnya bermacam-macam. Komplikasi waktu lahir, lemahnya kandung kemih atau uretra dan memasuki menopause bisa menjadi penyebabnya. Faktor lain seperti trauma, radiasi, TBC, stroke, pikun dan lainnya.
Meskipun sangat sedikit orang yang mengalami penyakit ini, namun banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Masalahnya adalah, orang yang menderita penyakit ini umumnya merasa malu untuk menceritakan keadaannya, karena dianggap sebagai penyakit ngompol yang memalukan.
"Banyak penderita wanita yang merasa penyakitnya adalah aib dan tidak bisa diobati makanya mereka diam," ujar Lizelle Grindell dari Biofeedback Clinic at the Sunninghill Netcare Hospital, Johannesburg.
Studi sudah membuktikan bahwa dengan melatih otot-otot panggul, relaksasi dan stimulasi elektrik efektif menyembuhkan penyakit tersebut hingga 85 persen. Tapi yang paling penting adalah jangan pernah merasa malu untuk berkonsultasi dengan ahlinya.












































