Lebih dari sepertiga partisipan yang ikut dalam pengembangan sistem kekebalan antibodi terhadap obat-obatan terlarang hasilnya menunjukkan penurunan penggunaan kokain. Tapi peneliti menemukan bahwa efek ini hanya bertahan selama dua bulan.
"Hal yang penting bahwa pemeliharaan metadon dan terapi perilaku kognitif (kesadaran) akan memberikan peran terbaik dari vaksin ini di masa depan sebagai pengobatan untuk kecanduan kokain," ujar Jeffrey T Parsons, profesor dan ketua psikologi di Hunter College di New York City, seperti dikutip dari MSN, Selasa (6/10/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa kelemahan dalam vaksin ini masih perlu dibenahi seperti peran suntikan penyokong yang diperlukan untuk menjaga tingkat antibodi," ujar Dr Steven Prenzlauer, seorang asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Texas A & M Health Science Center College of Medicine.
Berdasarkan informasi yang didapat, latar belakang dilakukannya penelitian ini karena banyaknya masyarakat yang kecanduang barang haram ini. Saat ini tidak ada terapi obat yang disetujui untuk kecanduan kokain, meskipun berbagai terapi perilaku telah digunakan. Tidak seperti metadon, kecanduan yang lain sering disebut dengan 'medical heroin'.
Penelitian ini dilakukan relatif singkat yaitu sekitar 6 bulan dan melibatkan 94 orang dewasa yang kebanyakan laki-laki berkulit putih. Peserta ini merupakan pengguna kokain dan sedang dalam program perawatan untuk ketergantungan obat.
Peserta secara acak mendapatkan 5 suntikan yang terdiri dari kontrol dan vaksin yang sebenarnya. Dihasilkan 38 persen peserta mencapai tingkat antibodi yang dikehendaki atau lebih tinggi pada minggu ke delapan. Kelompok ini juga memiliki sampel urin yang lebih bersih dibandingkan dengan peserta yang kadar antibodinya rendah.
Diharapkan dengan adanya hasil dari vaksin ini bisa dilakukan pengembangan lebih lanjut mengenai perawatan bagi pecandu kokain.












































