Biasanya orang yang sering bepergian jangka panjang memiliki masalah psikologis serta penyakit yang disebabkan oleh parasit. Karena orang tersebut harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang mungkin saja memiliki keadaan atau lingkungan yang jauh berbeda.
"Beberapa penelitian telah membandingkan antara jenis dan penyebab penyakit terhadap para wisatawan tersebut berdasarkan seberapa lama perjalannya," ujar Dr Lin H. Chen dari Mount Auburn Hospital di Cambridge, Massachusetts, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/10/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil yang didapatkan adalah orang yang melakukan perjalanan lebih dari 6 bulan memiliki risiko gangguan kesehatan yang lebih besar. Masalah yang mungkin timbul pada wisatawan yang melakukan perjalanan panjang adalah faktor kelelahan yang terus menerus, mengalami diare kronis atau infeksi pasca sindrom iritasi usus besar. Selain itu, wisatawan tersebut juga berisiko terkena leishmaniasis yaitu penyakit akibat parasit yang ditularkan oleh serangga sehingga menyebabkan luka parah.
"Sebenarnya banyak infeksi yang bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi, menghindari segala macam pemicunya serta menyediakan kebutuhan makan dan minum yang cukup," ungkap para peneliti.
Sementara itu masalah psikologis yang biasa ditemui adalah depresi, stres dan kelelahan yang membuat sistem kekebalan tubuh seseorang menurun. Peneliti menambahkan sekitar 70 persen wisatawan yang akan melakukan perjalanan panjang sudah memeriksakan kesehatannya terlebih dahulu.
Hal terpenting yang harus dilakukan jika ingin melakukan wisata jangka panjang adalah persiapkan diri baik fisik maupun mental dan peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan termasuk vitamin.
Disarankan tidak melakukan perjalanan lebih dari 6 bulan karena dikhawatirkan bisa berisiko terhadap kesehatan sehingga Anda tidak bisa menikmati perjalanan tersebut.












































