Sebelumnya, penelitian yang ditemukan menunjukkan bahwa kombinasi vaksin untuk HIV bisa memberikan efek perlindungan sebesar 31,2 persen yang telah diuji cobakan pada 16.000 heteroseksual berusia 18 tahun sampai 30 tahun.
Data terbaru yang telah dipublikasikan dalam sebuah konferensi di Paris, mengindikasikan bahwa dalam skala kecil mungkin bisa memberikan temuan yang kuat dan signifikan. Namun, peneliti mengatakan sampai saat ini belum dapat dimengerti apa yang menyebabkan vaksin ini kurang memberikan perlindungan terutama terhadap orang yang paling berisiko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, peneliti yang melakukan percobaan ini mengatakan bahwa 31,2 persen efek perlindungan yang diberikan tersebut memang nyata, meskipun beberapa ilmuwan mulai merasa ragu mengenai seberapa kuat efek perlindungan dari vaksin ini sebenarnya.
Para peneliti juga menilai bahwa vaksin ini tidak bisa digunakan di Afrika dimana tingkat infeksi HIV-nya paling tinggi, meskipun belum dapat dijelaskan secara pasti. Karenanya peneliti menambahkan bahwa pencegahan dan pendidikan adalah bentuk perlindungan yang paling baik terhadap infeksi HIV untuk jangka waktu menengah ini.
"Kami memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi sepertiga dari orang-orang yang terkena virus HIV di Thailand. Meskipun ini bukan vaksin yang efektif secara global, tapi vaksin ini tetap bisa digunakan untuk daerah di luar Thailand," ujar Colonel Jerome Kim yang merupakan manager produk vaksin HIV untuk Angkatan Darat Amerika Serikat, seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (21/10/2009).
Karena itu sampai saat ini peneliti masih terus melakukan pengembangan terhadap vaksin HIV, agar dapat menghasilkan vaksin yang benar-benar efektif dan bisa memberikan perlindungan yang besar terutama bagi orang yang paling berisiko. Vaksin yang masih diragukan ini merupakan kombinasi dari vaksin Sanofi-Pasteur's ALVAC canary pox/HIV dan vaksin HIV AIDSVAX.












































