Gangguan pola makan selama ini selalu dipandang sebagai suatu penyakit yang diakibatkan oleh faktor psikologis dan juga sosial seperti kelebihan berat badan yang membuatnya malu untuk berteman dengan siapapun.
Tapi kini ilmuwan berhasil menemukan faktor lain penyebab anorexia dari sisi biologis. Sebuah penelitian menemukan perbedaan jumlah protein BDNF (brain derived neurotropic factor) di otak antara perempuan sehat dengan yang anoreksia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun sampai saat in para ilmuwan belum dapat mengerti seutuhnya mengenai penyebab fisik anoreksia, tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar protein BDNF di otak yang rendah bisa mempengaruhi seseorang menjadi anoreksia. Protein BDNF (brain derived neurotropic factor) ini sendiri sangat bermanfaat terhadap fungsi otak.
Seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis(28/10/2009) Cynthia Bulik dari anggota aculty of 1000 Medicine serta ahli di bidang psikiatri dan gangguan makan, menunjukkan bahwa kadar potein BDNF ditemukan lebih tinggi pada perempuan yang sudah pulih dari penyakit anoreksia.
Selain itu peneliti dari Chiba University di Jepang juga mengatakan bahwa perempuan yang mengalami anoreksia memiliki kadar protein BDNF yang rendah dalam darahnya dibandingkan dengan perempuan sehat atau yang telah pulih dari anoreksia.
Perempuan dengan kadar BDNF rendah juga memiliki kepercayaan atau citra diri yang rendah, menderita akibat rasa cemas dan depresi serta memiliki kemampuan kognitif seperti berpikir, mengingat atau belajar yang tidak terlalu bagus.
Penelitian selanjutnya akan dilakukan untuk menentukan peran apa dari protain BDNF ini yang mempengaruhi seseorang menjadi anoreksia. Serta bagaimana meningkatkan kadarnya agar menjadi normal kembali.












































