Cantik di Negeri Operasi Plastik

Cantik di Negeri Operasi Plastik

- detikHealth
Rabu, 25 Nov 2009 17:50 WIB
Cantik di Negeri Operasi Plastik
Caracas - Wanita Venezuela dikenal akan kecantikannya. Bahkan beberapa kali ratu kecantikan sejagad berasal dari negara Hugo Chavez ini. Tapi hampir sebagian besar perempuan cantik di negeri latin ini bersentuhan dengan pisau bedah.

Di Venezuela adalah lumrah perempuan melakukan operasi plastik karena tujuannya dianggap baik untuk memperbaiki penampilan sampai-sampai negara ini dianggap surganya operasi plastik. Gadis muda yang baru memasuki usia 20 tahun, yang belum punya masalah kulit keriput pun sudah berani melakukan operasi plastik.

Acara mempermak tubuh pun terus berlanjut meski negara tersebut dilanda inflasi tinggi, yang naik 20% sejak awal tahun akibat resesi ekonomi. Tapi resesi ekonomi tak mengganggu permintaan bedah payudara, sedot lemak liposuction atau pengencangan kulit (facelifts) yang jalan terus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tak pernah ada pertanyaan untuk tidak melakukan operasi plastik tapi yang muncul bagaimana Anda melakukannya. Kita semua ingin dapat melakukan semuanya," kata Helen Patino, 37 tahun, mantan model yang telah melakukan operasi pembesaran payudara pertama kali di usia 21 tahun seperti dilansir dari ABCNews, Rabu (25/11/2009).

Berbagai cara dilakukan perempuan Venezuela untuk bisa melakukan operasi plastik mulai dari menggunakan uang tabungan atau meminjam dana dari keluarga. Bahkan tidak sedikit klinik yang membolehkan pasiennya membayar kredit.

"Krisis keuangan justru memacu orang untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk operasi untuk menghibur diri di kala krisis. Saya belum pernah melihat adanya penurunan permintaan untuk operasi," kata ahli bedah plastik Peter Romer di Caracas.

Bagi Iris Delgado (57 tahun) yang berprofesi sebagai teknisi gigi, kekurangan dana bukanlah halangan untuk memiliki kelopak mata baru demi mengurangi lipatan lemak.

"Orang harus berkorban jika tidak memiliki uang. Anda bisa mendapatkannya dari kartu kredit atau meminjam kepada keluarga," kata Delgado yang harus berutang 7.000 bolivares atau US$ 3.250 (Rp 32 juta) untuk bisa melakukan operasi plastik.

Seperti Delgado banyak orang Venezuela yang memilih berutang untuk membiayai operasi plastik. "Ini merupakan investasi yang membuat mereka mencari uang kemana-mana," kata Romer.

Bahkan menurut Romer, salah satu pasiennya memilih pindah ke apartemen yang lebih kecil untuk bisa melakukan operasi dan menjual lagi mobilnya agar bisa melakukan facelift.

Leoncio Barrios, psikolog sosial di Central University of Venezuela mengatakan sebagian besar kelas menengah dan perempuan yang berpenghasilan rendah tidak memiliki properti untuk dijual atau memiliki simpanan.

"Tapi iklan yang begitu gencar, bahkan di kereta bawah tanah, Anda dapat melihat iklan klinik yang menawarkan kredit untuk beberapa jenis operasi. Akibatnya banyak perempuan pekerja yang menggunakan bonus liburan atau meminjam dari rekening tabungannya untuk operasi," tambahnya.

Sementara Patino mengatakan meskipun biayanya mahal, pilihan untuk melakukan operasi plastik bukanlah sesuatu yang mewah di Venezuela. "Karena perempuan perlu menjadi cantik," kata Patino.

Menurutnya, dorongan perempuan di Venezuela melakukan operasi plastik juga karena kompetisi untuk mendapatkan tempat kerja atau menang perlombaan.

"Secara sosial memang banyak permintaan terutama dari laki-laki, sehingga perempuan berupaya memiliki tubuh yang bagus," kata Prem Pratita, 27 tahun yang baru saja melakukan operasi pembesaran payudara.

Maraknya operasi plastik tidak hanya terjadi di Venezuela, tapi juga banyak negara lain, hanya saja tidak seekstrim di Venezuela hingga harus berutang agar bisa operasi. Negara Asia seperti Korea Selatan dan China pun dilanda tren operasi plastik.

Namun para pakar kesehatan memperingatkan sebisa mungkin menghindari pisau bedah karena risiko yang dihadapi cukup besar. Beberapa metode operasi plastik dinilai tidak aman seperti sedot lemak Mesotherapy, apalagi banyak pelaku operasi plastik bukan dokter ahlinya. (ir/ver)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads