"Penanggulangan HIV/AIDS harus dimulai sejak anak-anak sekolah dasar, sebaiknya mereka diberi pendidikan bahwa rokok itu tidak baik, usahakan untuk selalu 'say no to drugs' dan tahan dulu agar jangan melakukan seks hingga waktunya nanti," ujar Menkes Dr Endang Sedyaningsih, MPH, PhD, dalam acara Seminar Advokasi "Akses Universal dan Hak Asasi Manusia" di ruang serba guna depkes, Jakarta, Kamis (26/11/2009).
Selama ini gencar sekali cara-cara penangulangan HIV/AIDS seperti tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, setia pada satu pasangan hingga penggunaan kondom. Tapi nyatanya sampai saat ini jumlah penderita HIV/AIDS masih terbilang tinggi karena sasarannya yang kurang luas. Penanggulangan penyakit menular yaitu HIV/AIDS adalah salah satu target pencapaian Millenium Development Goals (MDGs).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karenanya dibutuhkan kerja sama sehingga ada pedoman teknis dari berbagai sektor pemerintahan yang menjadi anggota Komisi Penanggulangan AIDS NAsional (KPAN) seperti Depkes, Depsos, Depdiknas, Depag, Depnakertrans, BKKBN dan Dephub.
Berbagai cara telah dilakukan untuk mengurangi jumlah infeksi baru HIV/AIDS, tapi masih saja ditemukan infeksi baru pada pasien HIV/AIDS. "Ini karena penanggulangannya tidak dimulai dari hulu, jadi sekarang harus cari tahu bagaimana caranya agar perempuan-perempuan di berbagai daerah tidak tertarik menjadi PSK (Pekerja Seks Komersil) dan masyarakat tidak tertarik untuk menggunakan narkoba," ujar Menkes.
Khusus untuk kasus di daerah Papua, yang jumlah penderita HIV/AIDS terbilang tinggi dikarenakan medannya memang susah untuk dijangkau sehingga distribusi obat ARV juga sulit didapatkan oleh masyarakat.
Selain itu diperlukan berbagai kebijakan kesehatan bagi masyarakat. Kebijakan ini penting karena kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia dan melibatkan hidup atau matinya seorang manusia.
"Pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah memberikan pendidikan dan informasi yang mendalam mengenai HIV/AIDS agar masyarakat bisa mengerti dengan benar, tidak hanya sebatas tahu HIV/AIDS itu apa dan penularannya bagaimana. Serta hilangkan perilaku diskriminasi pada orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA)," ungkap Dr Sumarjati Arjoso SKM, Wakil Ketua Komisi IX DPR-RI.
Ditambahkan Sumarjati bahwa dukungan dari orang-orang disekelilingnya dan penghilangan stigma buruk itu sangat penting untuk membantu menurunkan angka penderita HIV/AIDS. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dari pemerintah, masyarakat, tokoh agama dan peran wakil-wakil rakyat.
"Sampai saat ini masih ada masalah dalam hal pelaksanaan karena pemahaman berbagai pihak yang masih kurang mengenai HIV/AIDS serta penggunaan budget yang belum dimanfaatkan secara efektif padahal dana ini berasal dari APBN, APBD dan bantuan lainnya," ungkap Sumarjati.
Segala macam strategi yang dibertujuan untuk mencegah dan menurunkan risiko penularan HIV ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan akibat HIV/AIDS pada dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Peran serta masyarakat yang semakin meningkat dan bermakna serta diiringi dengan komitmen pemerintah yang semakin kuat, diharapkan bisa membentuk sebuah aliansi baru untuk menghadapi epidemi HIV/AIDS di Indonesia.
(ver/ir)











































