Pasien Koma Bisa Berkomunikasi

Pasien Koma Bisa Berkomunikasi

- detikHealth
Kamis, 04 Feb 2010 10:37 WIB
Pasien Koma Bisa Berkomunikasi
London - Saat tak sadarkan diri atau koma maka orang lain tidak bisa berkomunikasi dengan orang pingsan tersebut. Tapi dokter peneliti berhasil berkomunikasi dengan seorang pria yang sudah 5 tahun tak sadarkan diri dengan mengaktivasi pikiran pria tersebut.

Peneliti dari Inggris dan Belgia menggunakan pemindai otak (brain scanner) fMRI (functional magnetic resonance imaging) untuk menunjukkan bahwa otak pria yang mengalami cedera trumatis parah akibat kecelakaan di jalan tahun 2003 ini masih bisa berfungsi dengan baik.

Untuk membantu pasien berpikir dan menjawab beberapa pertanyaan, peneliti sengaja mengubah aktivitas dari otaknya. Sehingga pria ini bisa berpikir 'ya' atau 'tidak' dalam menjawab pertanyaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para ahli mengungkapkan hasil ini dapat membantu serta mengubah cara perawatan untuk orang yang mengalami koma. Setelah mendeteksi adanya tanda-tanda kesadaran, maka dokter akan memeriksa bagian otak dan mengubah aktivitas otaknya sehingga orang tersebut dapat berkomunikasi.

"Kami terkejut ketika melihat hasil scan dari pasien dan ia mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar hanya dengan mengubah pikirannya," ujar Dr Adrian Owen, rekan peneliti dari Medical Research Council, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (4/2/2010).

Owen menuturkan hasil yang penting dari penelitian ini adalah untuk pertama kalinya sejak 5 tahun yang lalu para ahli berhasil memberikan pasien kesempatan untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Pria yang kini berusia 29 tahun adalah salah satu dari 23 pasien yang didiagnosis mengalami koma. Tapi sebenarnya alat scan mampu mendeteksi tanda-tanda kesadaran dari empat orang pasien. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine.

"Penemuan ini adalah salah satu hal yang bisa memiliki dampak besar untuk kemjuan dunia kedokteran," ujar Nicholas Schiff, seorang ahli saraf dari Weill Cornell Medical College di New York.

Namun aktivasi dari otak ini hanya dapat terdeteksi pada orang yang mengalami luka trauma atau benturan dan bukan pada kasus kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.

Para ahli mengungkapkan cedera otak trumatis dapat disembuhkan dengan lebih baik dibandingkan kerusakan otak akibat stroke atau serangan jantung.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads