Leukemia Saat Usia Senja

Leukemia Saat Usia Senja

- detikHealth
Senin, 08 Feb 2010 15:57 WIB
Leukemia Saat Usia Senja
Jakarta - Penyakit kanker darah (leukemia) umumnya menyerang anak kecil atau usia remaja. Tapi jangan dikira orang dewasa kebal dengan leukemia.

Sebaliknya banyak orang yang memasuki usia senja terkena jenis kanker darah Leukemia Granulositik Kronik (LGK). Tentu saja si penderita awalnya tidak percaya akan mengidap kanker di atas usia 40-an tahun.

Seperti yang dialami Fajar Siata (44 tahun) yang tak pernah membayangkan akan menderita leukimia dalam hidupnya. Bermula pada tahun 1990 dirinya sering mengeluh mudah lelah dan muncul bercak-bercak hitam di kulitnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Fajar diharuskan menjalani tes laboratorium darah lengkap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan hasil tes ini diketahui bahwa jumlah leukositnya sangat tinggi yaitu sebesar 300.000, padahal jumlah normalnya hanya 10.000 saja. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan lain akhirnya diketahui bahwa Fajar menderita Leukemia Granulositik Kronik (LGK).

"Saat dokter mengatakan hal itu saya merasa syok dan kaget. Pada tahun 1990 itu saya sempat melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang yang berasal dari saudara laki-laki saya," ujar Fajar Siata, dalam acara Temu Nasional 2010 Pasien LGK dan GIST di Wisma Menegpora, Jakarta, Senin (8/2/2010).

Setelah melakukan transplantasi sum sum tulang belakang di Belgia, Fajar tetap harus menjalani kemoterapi dan berada di ruang isolasi selama 1 bulan. Tapi ternyata penyakitnya tak berhenti sampai di situ. Pada tahun 1997, saat dirinya balik ke Indonesia dan menjalani check up didapatkan dirinya mengalami kambuh kembali (relaps) LGK berdasarkan hasil pemeriksaan darah.

Sejak itu Fajar harus mengonsumsi obat oral setiap harinya. Tiga bulan pertama adalah saat-saat sulit bagi Fajar, karena tersiksa efek samping dari obat tersebut berupa mual dan diare setelah mengonsumsinya. Tapi kini dirinya sudah bisa menyesuaikan diri dengan hal tersebut.

"Setiap hari saya harus minum obat sebanyak 6 butir, tapi sekarang saya bisa beraktivitas layaknya seperti orang normal lainnya," ujar Fajar yang juga Ketua Himpunan Masyarakat Peduli ELGEKA.

Leukemia adalah suatu penyakit ganas dari susunan sel darah putih. Pada kasus LGK umumnya lebih banyak menyerang laki-laki dibandingkan perempuan, didapati 1-2 kasus per 100.000 penduduk dan terjadi pada orang dewasa.

"Sekitar 80 persen pasien ditemukan dalam fase kronik dengan 50 persen diantaranya tidak menunjukkan adanya gejala spesifik saat didiagnosis. Fase kronik ini adalah fase awal sebelum nantinya bisa berubah menjadi fase akselerasi dan fase krisis blastik yang paling parah," ujar Dr Made Putra Sudana SpPD, K-HOM dari FK Unair Surabaya.

Dr Made menuturkan tidak ada gejala yang khas dari penyakit ini, seseorang bisa saja merasa dirinya sehat walaupun ternyata setelah diperiksa didapatkan jumlah sel darah putih yang ada melampaui jumlah normal. Gejala yang biasa timbul adalah lelah, keringat di malam hari, perut terasa penuh, perdarahan serta adanya pembesaran limpa.

Jika pasien ditemukan dalam fase kronik maka masih memiliki kesempatan untuk mengonsumsi obat oral saja. Namun jika sudah memasuki fase krisis blastik, gejala yang ditimbulkan sudah semakin parah dan mirip dengan orang yang mengalami leukemia akut stadium awal. Biasanya ditandai dengan mudah terkena infeksi serta gangguan fungsi saraf.

LGK disebabkan oleh adanya translokasi kromosom 9 dan 22 dalam tubuh yang disebut dengan philadelpia kromosom. Namun penyebab terjadinya translokasi ini adalah multifaktor dan belum didapatkan satu penyebab pastinya.

Pasien LGK rutin mengonsumsi obat setiap harinya untuk menekan jumlah sel-sel darah putih di dalam tubuh. Jika pasien tidak teratur dalam mengonsumsinya, maka ada kemungkinan sel kanker mengalami resistensi obat serta jumlahnya melonjak.

Cara kerja dari obat imatinib yang dikonsumsi pasien adalah untuk menghambat salah satu protein dalam sel kanker yang memiliki peran sebagai penyampai pesan agar sel membelah diri. Dengan mengonsumsi obat imatinib, maka fungsi dari protein tersebut dihambat sehingga jumlah sel-sel kanker dalam tubuh tidak bertambah.

"Dengan mengonsumsi obat secara tepat dan cepat mengakibatkan sel kanker tidak punya kesempatan untuk membelah diri dan menghindari resistensi obat. Jika pasien memiliki daya tahan tubuh yang bagus, teratur mengonsumsi obat, rutin mengontrol diri ke dokter serta mengubah pola hidup, maka penyakit ini bisa disembuhkan," ujar Prof Dr dr Ary Haryanto Reksodiputro ahli hematologi dari RSCM.
(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads