Kamis, 11 Feb 2010 13:30 WIB

Sindrom Kleine-Levin Bikin Penderitanya Bak Putri Tidur

- detikHealth
London - Dongeng Putri Tidur menjadi kenyataan bagi Louisa Ball. Remaja berusia 15 tahun itu dijuluki 'Sleeping Beauty' karena terus tertidur dan tidak bangun-bangun selama 2 minggu. Ball didiagnosa mengidap penyakit Kleine-Levin Syndrome.

Kebiasaan tidurnya yang panjang itu dimulai pada tahun 2008 setelah ia sembuh dari penyakit flu. Namun baru tahun lalu Ball diketahui mengidap penyakit Kleine-Levin Syndrome, yaitu penyakit yang membuat hormon tidurnya terus bekerja.

Sindrom Kleine-Levin sering disebut juga sebagai penyakit Sleeping Beauty karena menyebabkan penderitanya mengalami tidur panjang hingga berminggu-minggu. Sang ibu, Lottie mengatakan bahwa Ball pertama kali tertidur di sekolah dan mulai berbicara melantur yang tidak masuk akal.

"Saat itu terjadi, kami benar-benar ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tampak seperti Louisa, putri yang kami kenal sebelumnya. Ia seperti orang lain," tutur Lottie seperti dilansir Telegraph, Kamis (11/2/2010).

Awalnya, dokter di Worthing General Hospital kebingungan dengan gejala yang dialami Ball. Dokter menduga hal itu terjadi karena gangguan hormon dalam tubuhnya.

Episode tidur Ball terus berlanjut hingga 10 hari ke depan semenjak ia tertidur. Selama itu, orangtuanya selalu berusaha membangunkan Ball setiap hari sekali untuk memberinya makan dan mengantarnya ke kamar mandi. Namun selebihnya, Ball tertidur lagi.

Saat dibangunkan, Ball selalu bicara melantur seakan-akan sedang berbicara sambil tidur. Setelah ia bangun dari tidurnya yang berhari-hari, ia akan lupa dan tidak mengingat apapun yang terjadi.

Penyakit Ball yang sebenarnya baru terdeteksi setelah ia dibawa ke ke St George's Hospital pada tahun 2009. Kleine-Levin Syndrome adalah penyakit hipersomnia periodik yang membuat penderitanya tertidur dalam jangka waktu lama. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria dan umumnya orang dewasa.

Penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti tapi diduga ada hubungannya dengan gangguan fungsi otak pada bagian yang mengatur tidur dan lapar. Tidak ada terapi yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit ini, namun beberapa obat digunakan untuk mengatur periode jumlah jam tidur.

Meski sudah diberi obat, namun Ball tetap tidak terbangun bahkan tetap tertidur lebih dari 12 hari. Ball yang biasa menikmati sekolah dan kelas dansa terpaksa melewatkan itu semua karena kondisinya tersebut. Namun sang ibu tetap berharap ada obat yang benar-benar membuat Ball terbangun dari tidur panjangnya. (fah/ir)