Beberapa penyakit tropis tersebut diantaranya diare yang disebabkan rotavirus, penyakit kaki gajah (filaria), lepra, DBD, malaria, flu, TBC, hepatitis dan penyakit Jamur.
Hal itu diungkapkan pakar mikrobiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Abu Tholib, M.Sc, Ph.D, dalam acara Simposium Internasional Ilmu Kedokteran Molekuler daerah Tropis, di kampus Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (17/3/2010).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tholib, penyakit TBC merupakan penyakit tropis yang masih tinggi angka kejadiannya di dalam negeri. Bahkan merupakan penyakit tertinggi ketiga di dunia.
Berdasarkan penelitian para pakar, beberapa jenis penyakit TBC saat ini ada yang resisten terhadap obat yang biasa digunakan selama ini.
"TBC yang resisten ini muncul sudah cukup lama, dan obatnya masih sangat terbatas karena harganya cukup mahal," katanya.
Selain TBC kata dia, penyakit tropis lainnya seperti DBD masih menjadi ancaman kematian. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir belum juga ditemukan vaksinnya.
"DBD sangat ruwet, menyerang anak kecil sekarang menyerang usia dewasa. DBD belum ada vaksinnya dan obatnya belum ada. Selama ini hanya diantisipasi shocknya, sementara virusnya sendiri diatasi oleh tubuhnya," katanya.
Hal senada juga diungkapkan dr. Tri wibawa, Ph.D bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir tingkat kejadian kasus DBD meningkat hingga 50 kali lipat.
Menurut Tri, saat ini terdapat 1.400 macam obat yang terdaftar pada otoritas-otoritas obat dan kesehatan dunia. Namun, proporsi obat untuk penyakit tropis hanyalah kurang dari satu persen dari jumlah seluruh obat yang ada di dunia.
(bgs/ir)











































