Tapi untuk menjadikan warga Bukittinggi sehat bukan pekerjaan mudah. Karena sebelumnya, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007, menempatkan Sumatera Barat merupakan salah satu dari lima provinsi dengan kejadian penyakit menular terkait sanitasi diatas rata-rata nasional, yaitu penyakit ISPA dan diare.
Ini karena praktik perilaku higienis seperti Buang Air Besar (BAB) di jamban, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tatanan rumah tangga, di Sumatera Barat masih kurang dilakukan sehingga provinsi masuk satu diantara lima provinsi yang masih di bawah rata-rata nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kondisi yang ada, maka dibuatlah program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang bisa dikatakan tidak mungkin terjadi tanpa adanya upaya mempercepat kepedulian masyarakat akan sanitasi yang baik.
Dengan kenyataan ini, maka kota Bukittinggi, yang merupakan jantung kota provinsi Sumatera Barat melakukan berbagai cara untuk dapat menumbuhkan budaya hidup sehat dan peduli sanitasi.
"Sekarang persentase penyakit yang terkait sanitasi seperti diare sudah jarang terjadi di Bukittinggi," ujar Yuniati, PLT Kepala Dinas Kesehatan Bukittinggi, saat berbincang-bincang bersama detikHealth, Kamis (20/5/2010).
Menurut Yuniati, warga Bukittinggi kini sudah jarang yang menderita diare atau penyakit yang berkaitan langsung dengan sanitasi. Penyakit yang sering terjadi di Bukittinggi lebih pada penyakit yang berkaitan dengan perubahan cuaca, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).
Hal ini karena pemerintahan telah penerapkan beberapa kebijakan pada tahun 2010, seperti Instansi Pengelola Limbah Cair (IPAL) yang diterapkan pada setiap puskesmas yang ada di kota Bukittinggi
Selain itu, kehigienisan air yang digunakan untuk minum, seperti perusahaan air isi ulang dan air sumur harus lulus uji laboratorium yang dilakukan pada UPT Laboratorium Dinas Kesehatan Bukittinggi.
Sosialisasi dan pembinaan juga selalu diberikan secara rutin 2 bulan sekali pada kader posyandu yang merupakan ujung tombak paling bawah yang pertama kali menyosialisasikan program kesehatan di lapangan langsung ke masyarakat. (mer/ir)










































