Peneliti mengungkapkan dua obat percobaan yaitu Bristol-Myers Squibb's ipilimumab dan Pfizer's tremelimumab yang digunakan untuk melawan kanker dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memiliki efek khusus untuk mengubah rambut beberapa pasien menjadi berwarna putih.
Berdasarkan penelitian ini semua pasien yang rambutnya memutih memiliki respons sempurna terhadap pengobatan yang diberikan. Hal ini terbukti saat tidak terlihatnya lagi tumor ketika dilakukan CT-Scan. Ada kemungkinan rambut putih sebagai tanda awal bahwa obat bekerja untuk melawan kanker kulit yang mematikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Pavlick menuturkan kedua obat tersebut dirancang untuk memblokir molekul sistem kekebalan tubuh CTLA-4. Dalam studi ini melibatkan 48 pasien yang 17 diantaranya memiliki respons sangat bagus terhadap terapi pengobatan ini. Hasil penelitian ini diungkapkan dalam pertemuan American Society of Clinical Oncology di Chicago.
"Ketika pasien ditanya mengenai rambutnya yang berubah, semuanya menjawab dengan sama. Kondisi ini selalu dimulai dari alis atau cambang lalu ke rambut di kepala. Bagi saya ini adalah tanda penyembuhan," ungkapnya.
Meski demikian belum dapat diketahui dengan pasti mengapa pasien yang memiliki respons obat baik mengalami kehilangan pigmen di rambutnya. Dr Pavlick dan tim tengah mempelajari hal tersebut dan berharap bisa menemukan cara baru agar pengobatan ini lebih menguntungkan pasien.
Sebuah studi terpisah menunjukkan obat ipilomumab yang baru dirilis ini bisa memberikan kesempatan pasien melanoma untuk hidup 2 tahun lebih panjang, sedangkan dengan pengobatan lain hanya 9 bulan.
"Setelah puluhan obat untuk melanoma mengalami kegagalan, saya kira hasil penelitian ini akan memberikan langkah baru untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih besar lagi," ujar Dr Pavlick.
(ver/ir)










































