Ide ini diusulkan oleh akademisi sekaligus ahli hukum setempat, Sir Peter North saat diminta pemerintah Inggris untuk mengkaji ulang peraturan mengemudi. Total ada 51 rekomendasi yang ia sampaikan dalam kajian tersebut.
Dikutip dari Telegraph, Jumat (18/6/2010), Sir Peter mengusulkan ambang batas alkohol diturunkan menjadi 50 mg alkohol dalam 100 mL darah, dari yang berlaku saat ini sebesar 80 mg. Sanksi untuk pelanggaran tidak berubah, tetap berupa larangan mengemudi selama 12 bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan analisis data dari National Institute of Health and Clinical Excellence (NICE), diperkirakan ambang batas yang baru tersebut bisa mencegah 168 kematian akibat kecelakaan lalu lintas, atau 7 persen pada tahun pertama diterapkan. Sedangkan untuk 6 tahun berikutnya, diyakini dapat mencegah 303 kematian tiap tahun.
Sir Peter mengatakan, pemerintah Inggris sebenarnya menghendaki ambang batas yang lebih rendah yakni 20 mg. Namun usulan tersebut dinilainya kurang bijaksana, karena akan berbenturan dengan budaya dan perilaku warga Inggris.
Selain akan merugikan industri hiburan seperti bar dan pub, menetapkan ambang batas terlalu rendah sama saja dengan melarang orang minum obat batuk, atau umat Kristen minum anggur saat menjalankan ibadah. Jika dipaksakan, aturan itu diyakini tidak akan mendapat dukungan publik.
Bagaimanapun ambang batas alkohol saat mengemudi yang berlaku di Inggris saat ini cukup longgar. Di seluruh Uni Eropa, hanya ada 5 negara termasuk Inggris yang masih menetapkan ambang batas sebesar 80 mg.
(up/ver)










































