Penyakit ini sudah ada sejak abad 5 SM (sebelum masehi) dan dikenal dengan nama penyakit kuning, tapi sekarang penyakit ini dikenal dengan nama hepatitis.
Terdapat berbagai macam jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, C, D, E dan G. Namun infeksi yang paling sering ditemukan dan menjadi masalah kesehatan dunia adalah hepatitis B dan C.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun bukan termasuk penyakit yang menjadi penyebab kematian langsung, tapi hepatitis virus bisa menimbulkan masalah di usia produktif. Selain itu jika tidak segera diobati bisa berkembang menjadi komplikasi yang lebih buruk seperti sirosis atau kanker hati. Hal ini tentu saja menimbulkan penderitaan dan menjadi beban sosial ekonomi keluarga, masyarakat dan negara.
Pada tahun 2007 Kementerian Kesehatan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mengenai hepatitis di Indonesia. Dalam survei ini dikumpulkan dan dianalisis sampel darah dari 30.000 rumah tangga di 294 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Hasilnya menunjukkan prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi virus hepatitis B yang ditunjukkan dengan Anti-HBc sebesar 34 persen dan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Angka tertinggi prevalensi ini terjadi pada usia 45-49 tahun. Sedangkan untuk hepatitis C didapatkan Anti-HCV positif dengan angka tertinggi pada kelompok usia 55-59 tahun yaitu sebesar 2,12 persen.
"Semua data ini merupakan data nasional yang berbasis populasi dan dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan berbagai upaya kesehatan dan penelitian lebih lanjut," ujar Menkes dr Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, Dr.PH.
Lebih lanjut Menkes menuturkan ada berbagai tantangan yang terjadi di Indonesia mengenai hepatitis ini, yaitu:
- Saat ini hepatitis belum dikenal sebagai prioritas utama.
- Kurangnya pengetahuan dan juga kepedulian dari berbagai kalangan mengenai penyakit ini.
- Sebagian besar endemis hepatitis ini terjadi di negara berkembang.
- Adanya masalah dalam hal diagnosis dan juga pengobatan.
"Mayoritas pengidap hepatitis B terdapat di negara berkembang, tapi akses teknologi dan fasilitas pencegahan serta pengobatan hanya dmiliki oleh negara maju yang justru bukan daerah endemis hepatitis B," ungkap Menkes.
Untuk itu dibutuhkan pencegahan dan kontrol yang komprehensif terhadap hepatitis virus, salah satunya dimulai dengan program imunisasi hepatitis B pada tahun 1997 dengan sasaran utama bayi di bawah usia 1 tahun.
Selanjutnya tahun 2003 ditingkatkan lagi untuk bayi baru lahir. Kini program tersebut telah menurunkan prevalensi hepatitis B pada anak di bawah usia 4 tahun dari 6,2 persen menjadi 1,4 persen.
(ver/ir)










































