Karena kemiripan itulah, sebuah rumah sakit di Australia salah mendiagnosis gadis remaja yang datang dengan keluhan migrain dan mual muntah. Tanpa melakukan pemindaian otak, dokter rumah sakit malah mengira gadis tersebut hamil.
Dikutip dari Ninemsn, Senin (12/7/2010), gadis bernama Kate Newton tersebut datang dengan keluhan mengalami migrain dan mual muntah selama sepekan. Selain itu ia juga lebih sensitif terhadap cahaya dan kebisingan, yang memperparah sakit kepalanya.
Dokter di rumah sakit tersebut hanya melakukan tes urine dan ternyata memang ada infeksi di saluran kencing. Gadis bernama berusia 16 tahun tersebut akhirnya hanya disuntik dan pulang dengan dibekali antibiotik.
Namun gejala itu terus memburuk sehingga keluarga Kate tidak yakin bahwa gadis itu hamil. Ketika dibawa ke rumah sakit untuk kedua kalinya, lagi-lagi dokter menolak untuk memeriksa otak dan mengatakan gadis itu hanya mengalami vertigo.
Pemindaian baru dilakukan ketika infeksi otak yang dialami Kate sudah sangat parah. Bahkan saat dilarikan ke rumah sakit untuk ketiga kalinya, ia sempat mengalami serangan jantung dan nyaris tewas.
Setibanya di rumah sakit ketiga, Kate mendapat resusitasi (mengembalikan kesadaran) dan langsung dibawa ke ruang operasi. Dokter membuat lubang di tengkoraknya untuk mengambil cairan di kepalanya yang menekan otak dan hampir membunuhnya.
Pada akhirnya nyawa Kate bisa diselamatkan meski masa pemulihan di ICU memakan waktu berhari-hari. Hingga kini, ia masih mengalami rasa pusing serta gangguan ingatan jangka pendek.
Dikutip dari Emedicinehealth, infeksi otak paling banyak disebabkan oleh bakteri dan virus. Meski jarang, jamur dan mikroba lain juga bisa menyebabkan infeksi pada sistem syaraf pusat.
Gejala awal pada orang dewasa berupa demam tinggi, sakit kepala, leher kaku, mual, muntah, dan sensitif terhadap cahaya. Gejala itu akan berkembang hingga pada tahap paling parah dapat menyebabkan hilangnya kesadaran serta koma.
Di seluruh dunia, jenis infeksi otak yang paling sering terjadi adalah bacterial meningitis. Infeksi tersebut menyebabkan epidemi rutin di Afrika Barat, dan pernah menyebabkan 25.000 kematian pada tahun 1996.
(up/ir)










































