Virus di Perut Bisa Jadi Ciri Khas Seseorang

Virus di Perut Bisa Jadi Ciri Khas Seseorang

- detikHealth
Selasa, 20 Jul 2010 09:22 WIB
Virus di Perut Bisa Jadi Ciri Khas Seseorang
Seattle - Seperti halnya sidik jari, isi perut tidak pernah ada yang sama persis. Perbedaannya terletak pada gerombolan virus baik di dalam usus besar, yang berbeda-beda dan menjadikannya ciri khas pada setiap individu.

Bahkan menurut para ahli, pasangan kembar identik sekalipun bisa dibedakan dari feses atau kotorannya. Dikutip dari Health24, Selasa (20/7/2010), koloni atau kumpulan virus yang tumbuh di usus besar tersebut merupakan penanda yang unik seperti DNA.

Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian di University of Washington School of Medicine, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature.

Menurut para peneliti, sebagian besar virus yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah virus baik yang tidak mneyebabkan penyakit. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan virus baru, yang belum pernah diteliti sebelumnya.

Di dalam usus, virus-virus tersebut diduga memegang peran penting dalam pencernaan. Salah satunya adalah membantu mengurai beberapa jenis karbohidrat yang bersumber dari tanaman, yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh tubuh manusia.

Meski hidup di lingkungan yang sama dengan bakteri dan mikroba penghuni usus lainnya, virus-virus baik ini tidak menunjukkan sifat sebagai pemangsa atau predator. Ketika menempel pada beberapa bakteri agar bisa menggandakan diri, virus menyumbangkan gen tertentu yang menguntungkan bagi bakteri tersebut.

"Ini menarik karena di alam bebas virus bersifat predator bagi bakteri," ungkap salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian, Jeffrey Gordon.

Saat menganalisis beberapa sampel feses, Jeffrey menemukan bahwa jumlah setiap spesies virus di usus sangat khas pada setiap individu. Dalam pengamatan selama 1 tahun, komposisinya relatif stabil bila dibandingkan dengan komposisi bakteri yang selalu naik-turun.

Perubahan pada koloni virus hanya terjadi ketika tubuh terserang penyakit atau mendapatkan terapi tertentu. Oleh karenanya, Jeffrey dan rekan-rekannya tengah meneliti kemungkinan untuk memakainya sebagai indikator kesehatan secara umum.
(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads