Sudep ternyata menjadi penyebab kematian mendadak penderita epilepsi. Namun untuk membuka kedok si pembunuh diam-diam ini, dokter kadang sulit mendiagnosanya.
Sindrom ini diperkirakan menjadi penyebab 18 persen dari keseluruhan kematian akibat epilepsi. Sudep diperkirakan menyerang orang yang memiliki kejang buruk sebanyak 1-10 kali dalam satu dekade (10 tahun) sehingga memang serangannya sangat jarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi pada 19 Juli 2009, sang ayah Steve Wulchin menemukan anaknya tergeletak di lantai. Tim paramedis yang berusaha menolongnya dengan melakukan CPR tidak bisa menyelamatkan nyawanya.
Dokter akhirnya bisa mengungkapkan penyebab kematian Eric adalah akibat sudep, yaitu kematian akibat epilepsi yang tiba-tiba yang hingga kini kebanyakan dokter belum bisa menjelaskannya ke keluarga karena khawatir akan membebankan psikologis pasien dan keluarga.
"Dari empat orang neurologis (ahli saraf) yang pernah menangani Eric, tidak ada satupun yang pernah menjelaskan tentang sudep. Karena itu tidak pernah terpikir oleh saya bahwa ini adalah suatu kemungkinan yang bisa saja terjadi pada Eric," ungkap si ayah seperti dikutip dari NYTimes, Selasa (27/7/2010).
Selama ini pengetahuan tentang sudep memang masih sangat terbatas, dan banyak orang yang memiliki epilepsi tidak mengetahui tentang ancaman dari sudep ini.
Dr Elizabeth Donner, ahli saraf yang juga pendiri advokasi Sudep Aware menuturkan bahwa orang dengan epilepsi memiliki hak untuk tahu bahwa ada ancaman yang dikenal dengan sudep. Pasien juga memiliki hak untuk melakukan konseling agar tahu bagaimana mengurangi risiko terkena kondisi ini.
Sudep paling sering menyerang orang dewasa muda yang berusia 20-40 tahun dengan riwayat kejang-kejang yang tegang atau disebut dengan 'grand mal'.
Faktor risiko lainnya adalah orang dengan kejang yang sulit dikontrol, kejang pada malam hari, orang yang mengonsumsi obat anti-epilepsi dalam jumlah besar atau tidak teratur serta orang dengan epilepsi yang memiliki IQ kurang dari 70.
Kebanyakan korban meninggal pada saat sedang tidur dengan posisi wajah berada di bawah. Posisi rawan ini menunjukkan bahwa sebelumnya seseorang mengalami gangguan saraf, krisis pernapasan atau jantung dan bisa juga kombinasi keduanya sehingga membuat seseorang tidak mampu melakukan apa-apa. Kondisi ini sama seperti kasus SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) pada bayi, tapi dokter menegaskan sudep dan SIDS tidak sama.
"Setelah mengalami kejang, secara dramatis seseorang akan berkurang kesadarannya dan juga kemampuan merespons rangsangan (refleks)," ujar Dr Orrin Devinsky, direktur Comprehensive Epilepsy Center di New York University.
Penelitian mengenai hal ini masih sangat terbatas, karena banyak para ahli yang belum mau terbuka mengenai sudep.
Karena itu diharapkan dengan semakin banyak orang yang membicarakannya, maka akan semakin banyak yang tertarik untuk mencari tahu penyebabnya hingga akhirnya dapat mengidentifikasi cara untuk mencegahnya.
(ver/ir)










































