Dikutip dari AOL Health, Kamis (29/7/2010), Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders merupakan buku pedoman yang digunakan oleh para profesional kesehatan jiwa dalam menegakkan diagnosis. Pedoman ini diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).
Dalam edisi terbaru yang akan dipublikasikan pada Mei 2010, APA memasukkan kategori baru gangguan jiwa yang belum pernah ada sebelumnya. Kriterianya sangat longar, sehingga para ahli khawatir orang normal sekalipun bisa masuk di dalamnya.
Salah satunya adalah temper dysregulation syndrome atau sindrom ketidakmampuan untuk mengontrol kemarahan. Perilaku yang tedapat dalam kategori tersebut adalah temper tantrum, yakni perilaku sering mengamuk yang sering dialami oleh anak berusia 2-5 tahun.
Kategori baru lainnya adalah psychosis risk syndrome, yang diberikan bagi pasien yang belum dinyatakan psikosis namun punya potensi untuk mengalaminya. Gejalanya berupa perubahan suasana hati (mood), perasaan tertekan, gelisah dan paranoia serta sesekali mengalami halusinasi.
Seseorang yang kesulitan mengendalikan nafsu makan juga dapat dikategorikan sakit mental jika didiagnosis menggunakan pedoman baru tersebut. Sebab, binge eating atau makan berlebihan juga dimasukkan sebagai kategori baru gangguan jiwa.
"Secara teknis, klasifikasi yang begitu banyak membuat semua orang jadi punya gangguan. Ini akan memicu keyakinan bahwa semua orang butuh obat untuk mengatasi kondisinya," ungkap Til Wykes dari Institute of Psychiatry di Kings College London, dalam publikasinya baru-baru ini di The Journal of Mental Health.
Menurut Wykes, pedoman yang baru tersebut bisa memberikan dampak sosial yang lebih luas. Diagnosis sakit jiwa bagi seseorang akan berpengaruh pada pekerjaan, hubungan dengan lingkungan, konsentrasi dan bahkan pola tidur yang bersangkutan.
(up/ir)










































