UI Buka Program Magister Herbal

UI Buka Program Magister Herbal

- detikHealth
Jumat, 06 Agu 2010 13:04 WIB
UI Buka Program Magister Herbal
Depok - Obat-obatan tradisional seperti jamu banyak diminati oleh masyarakat, tapi sayangnya penelitian mengenai khasiat jamu ini masih minim. Dengan dibukanya program magister herbal di departemen farmasi Univesitas Indonesia diharapkan bisa semakin banyak ilmuwan yang meneliti herbal.

Program magister herbal UI ini ada di bawah fakultas MIPA yang bekerja sama dengan Martha Tilaar Group. Diharapkan lulusan program magister herbal ini dapat menggali, mengembangkan serta melestarikan kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Sehingga dapat mengangkat produk berbasis herbal seperti jamu di dalam dan luar negeri, serta mengurangi dampak negatif dari produk jamu yang menggunakan penambahan bahan kimia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biasanya penelitian dilakukan secara individual, karena itu diperlukan kombinasi antara akademik atau teori dan penelitian herbal sehingga dapat meningkatkan mutu herbal di Indonesia," ujar Dr. Ir Muhammad Anis, M.Met selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia dalam acara Peresmian Program Magister Herbal dan Green Garden Science di Balai Sidang UI, JUmat (6/8/2010).

Sementara Dr Martha Tilaar mengatakan lulusan magister ini diharapkan dapat melakukan riset dan menerapkan kaidah ilmiah dalam pemanfaatan kekayaan alam khususnya tanaman obat kosmetik dan aromatik untuk kesehatan maupun estetika, sehingga dapat mempertanggungjawabkan pemakaian jamu.

"Diharapkan nantinya dapat diketahui bukti imiah dari produk herbal ini, sehingga bisa menyediakan jamu yang aman dan dapat dimanfaatkan secara luas. Selain itu agar jamu bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," ujar Sekjen Kemenkes dr. Ratna Rosita, MPH.

Dr Martha Tilaar menuturkan program magister herbal ini merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan jamu dan produk berbasis herbal lainnya, seperti:

1. Banyaknya praktek herbal yang tidak sesuai dengan aturan dalam hal pembuatannya, karena pembuatan produk herbal harus dilakukan secara bersih, tepat dan benar. Tapi terkadang ada produk herbal yang dicampurkan dengan bahan kimia sehingga bisa menimbulkan kerugian pada masyarakat.

2. Kurangnya tenaga kompeten dalam bidang herbal yang dapat memberikan konsultasi agar praktek pengobatan tradisional tidak menimbulkan efek samping dan dapat dipertanggung jawabkan.

3. Belum banyak dokter yang mau memanfaatkan produk herbal Indonesia karena kurangnya data penelitian ilmiah hingga studi klinis.

4. Banyaknya obat herbal impor yang menyebabkan produk herbal Indonesia menurun akibat kurang bisa bersaing.

Pada saat yang bersamaan juga diresmikan Green Garden Science sebagai "Pustaka Hidup Tanaman Obat Kosmetik dan Aromatik' bagi mahasiswa Universitas Indonesia. Taman ini terdiri dari 105 tanaman obat yang digunakan untuk kecantikan dan kesehatan yang dilengkapi dengan nama Indonesia dan latin serta kegunaannya.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads