Si Cantik Peony Bisa Kurangi Efek Samping Kemoterapi

Si Cantik Peony Bisa Kurangi Efek Samping Kemoterapi

- detikHealth
Kamis, 19 Agu 2010 14:30 WIB
Si Cantik Peony Bisa Kurangi Efek Samping Kemoterapi
New Haven - Tanaman hias Peony (genus Paeonia) banyak digemari karena memiliki mahkota yang indah. Di balik kecantikannya tersebut, bunga ini juga menyimpan khasiat meredakan efek samping kemoterapi atau pengobatan untuk mengatasi kanker.

Kemoterapi merupakan rangkaian pengobatan yang bertujuan untuk mengatasi pertumbuhan sel tumor. Cara kerjanya adalah membunuh sel tumor yang dicirikan dengan pertumbuhan dan pembelahan diri yang sangat cepat.

Sayangnya pengobatan kemoterapi ini biasanya kurang spesifik. Sel-sel lain rambut seringkali ikut dimatikan, karena memiliki sifat seperti tumor yakni tumbuh dan membelah diri dengan cepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kematian beberapa sel yang bukan tumor mengakibatkan sejumlah efek samping. Di antaranya yang sering dialami pasien kemoterapi adalah mual, muntah, diare, kram perut dan penurunan berat badan.

Untuk mengatasinya, peneliti dari Yale University School of Medicine mengembangkan obat baru yang dibuat dari bunga peony. Sebenarnya bukan penemuan baru, sebab ramuan yang sama sudah digunakan selama ratusan tahun dalam pengobatan tradisional China.

Pada zaman Tiongkok kuno, bunga asli daratan Asia ini memang banyak digunakan dalam pengobatan. Khasiatnya antara lain untuk meredakan rasa sakit, menurunkan panas dan mencegah infeksi.

Bunga peony yang dikenal dengan mahkotanya yang tebal ini juga sering digunakan sebagai campuran kosmetika. Selain diyakini membuat kulit awet muda, kandungan antialerginya juga bisa mengatasi bisul dan masalah kulit lainnya.

Namun obat baru yang dinamakan PHY906 ini tidak hanya berisi ekstrak peony, melainkan ada beberapa jenis herba yang lain di dalam formulanya. Termasuk di antaranya adalah kayu manis, ekstrak apel dan ekstrak skullcap (sejenis mint).

Dikutip dari Dailymail, Kamis (19/8/2010), kemanjuran obat ini dibuktikan dalam uji preklinis yang dimuat di jurnal Science Translational Medicine. Saat diberikan pada tikus yang mendapat pengobatan untuk tumor usus, sel tumor menyusut sementara berat badan tikus tidak banyak berkurang.
(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads