Saat mengingat salah satu peristiwa terburuk dalam hidupnya Dahlan kerap termenung. Selama bertahun-tahun, kanker hati menzalimi tubuhnya. Akibatnya fatal. Kekebalan tubuhnya kian menurun. Sampai terjadilah kekhawatiran itu, virus hepatitis B telah merusak hatinya dan nyawanya terancam.
Tak ada pilihan. Tiga tahun lalu, 6 Agustus 2007, Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi hati. Dahlan yang saat itu masih menjabat CEO Jawa Pos memilih Tianjin First Center Hospital, China, untuk tempat eksekusi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi yang membuat tubuh Dahlan harus dibius selama 18 jam itu sukses dan fungsi hatinya perlahan membaik. Dahlan Iskan bisa kembali aktif tapi tak lantas membuatnya sehat seketika.
Apalagi menjadi dirut PLN sudah pasti membuat pekerjaannya makin bertumpuk. Perjalanan jauh ke daerah pedalaman, bahkan berkeliling negeri, serta rapat berjam-jam menjadi rutinitasnya. Nyatanya, ia masih terlihat bugar.
"Kuncinya hanya disiplin," katanya.
Disiplin itu artinya ia harus menjalani beberapa ritual yang tak boleh terlewati.
Pasca operasi, hidup pria berkacamata ini memang sangat bergantung pada obat 'hati' buatan China yang harus ditelannya dua kali sehari, yaitu pada pukul 5 pagi dan pukul 5 sore.
Sebelum minum obat, Dahlan diwajibkan puasa selama dua jam dan dilanjutkan satu jam setelah obat itu masuk ke mulutnya.
Selain diminum, ternyata Dahlan juga harus menyuntikkan obat itu ke dalam tubuhnya. Menurut dia, imunisasi itu dilakukan agar hati 'baru' nya tidak terkena virus hepatitis B, seperti hatinya yang lama. "Karena hati baru ini tidak punya imunitas," ungkapnya.
Tidak hanya itu, setiap tiga bulan sekali, pria berusia 59 tahun ini secara rutin menyambangi negeri tirai bambu untuk mengecek kesehatannya.
Nah, berdasarkan hasil medical check up terakhir bulan Agustus 2010, kondisinya dalam keadaan baik. Namun, Dokter meminta Dahlan untuk menghindari empat macam makanan yaitu wortel, kentang, tomat dan jamur karena kulitnya akan langsung bintik-bintik jika memakan makanan itu.
Makanan memang menjadi salah satu perhatian Dahlan dalam menjaga kesehatannya. Selain harus menghindari empat makanan tadi, setelah operasi ia juga tidak boleh makan makanan mengandung minyak dan pedas.
Ayah dari dua anak ini mengaku, dirinya baru mengatur pola makan dan memperhatikan makanan yang dimakannya setelah mengetahui virus hepatitis B itu menjangkiti tubuhnya.
"Saya makan makanan sehat baru sekarang, dulu kan saya ngawur. Saya mulai insyaf sebelum operasi, tapi sudah terlanjur sakit. Jadi saya baru insyaf setelah sakit," terangnya sambil terkekeh.
Hidup Dahlan berubah. Semua anjuran dokter itu harus dikerjakannya secara disiplin. Sebab kalau tidak, pria asal Magetan, Jawa Timur ini tahu konsekuensinya. Ia akan kehilangan liver barunya yang artinya nyawa taruhannya. (epi/ir)










































