Secara resmi, antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama baru dibuat oleh Benjamin Duggar pada tahun 1948 dengan auereomycin. Sedangkan antibiotik yang pertama kali ditemukan dalam pengobatan dunia moderen adalah penicillin yang ditemukan Alexander Fleming pada tahun 1928.
Penemuan ini mencuat ketika para ahli dari Mark Nelson of Paratek Pharmaceuticals, Inc meneliti kerangka 2 mumi balita dari peradaban tersebut. Di dalam tulang mumi yang berasal dari tahun 350 dan 550 SM itu, peneliti menemukan jejak senyawa tetrasiklin.
Saat ditelusuri, jejak senyawa itu berasal dari ramuan bir kuno buatan bangsa Nubia yang tinggal di wilayah timur laut benua Afrika. Para ahli bioarkeolog menyebutkan, ramuan bir tersebut menggunakan bakteri streptomyces yang juga dipakai dalam pembuatan tetrasiklin modern.
Awalnya para ahli menduga bahwa keberadaan streptomyces dalam bir hanya merupakan kontaminasi atau pencemaran yang tidak disengaja. Namun dugaan ini dipatahkan oleh penelitian bioarkeolog asal Atlanta, George Armelagis yang
dipublikasikan dalam American Journal of Physical Anthropology.
Dikutip dari Sciencedaily, Jumat (3/9/2010), Armelagos menggunakan teknologi tinggi untuk mengekstraksi atau memisahkan senyawa tetrasiklin dari tulang mumi. Tulang itu dilarutkan dalam hidrogen sulfida, senyawa asam yang konon paling berbahaya di planet ini, agar diperoleh gambaran kadar tetrasiklin yang lebih akurat.
Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa kandungan tetrasiklin dalam tulang tersebut sangat banyak dan mengindikasikan penggunaan secara rutin dalam jangka panjang. Para ahli meyakini fermentasi yang melibatkan streptomyces itu berjalan di bawah kontrol dan sengaja dilakukan untuk menghasilkan bir berkhasiat obat.
Terlebih sejumlah literatur kuno menyebutkan, bangsa Mesir dan Yordania memang menggunakan bir untuk mengatasi masalah gusi dan infeksi lainnya. Hal ini menguatkan dugaan bahwa fermentasi antibiotik sebenarnya sudah dikenal sejak masa tersebut.
(up/ir)










































