Ketika terhirup melalui saluran pernapasan, timbal dapat menekan pelepasan hormon yang akan menginduksi produksi sel telur untuk pertama kali. Hormon tersebut dihasilkan di dalam indung telur.
Kelebihan timbal sebanyak 5 mikrogram di dalam setiap 1 desiliter darah dapat menyebabkan pelepasan hormon tersebut berkurang 75 persen. Semakin banyak cemaran timbal di dalam darah, maka makin lama pula penundaan masa pubertas itu terjadi.
Pengaruh tersebut bisa menjadi lebih besar pada remaja putri yang mengalami defisiensi atau kekurangan zat besi. Pada kondisi ini, kadar cemaran timbal harus dimonitor dengan lebih ketat untuk mengtasi penundaan masa pubertas.
Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan di US National Institute of Child Health and Human Development dan dimuat dalam jurnal Environmental Health Perspectives. Penelitian ini melibatkan tak kurang dari 700 remaja putri berusia 6-11 tahun.
US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan, kadar timbal sebaiknya tetap dimonitor sekalipun tidak mengalami defisiensi zat besi. Kadar timbal perlu diwaspadai jika melebihi 10 mcg/dL, meski beberapa orang bisa mengalami dampaknya pada kadar yang lebih rendah.
Dikutip dari Healthday, Senin (6/9/2010), cemaran logam berat lainnya yang juga menyebabkan tertundanya masa pubertas adalah cadmium. Dalam jumlah yang cukup signifikan, polutan ini bisa ditemukan dalam asap rokok.
(up/ir)











































