Koordinasi antar bakteri terjalin berkat adanya kemampuan berkomunikasi yang dinamakan Quorum Sensing (QS). Selama terjadi infeksi, QS memungkinkan para bakteri untuk saling berkoordinasi untuk secara bersama-sama mengeluarkan racun penyebab radang.
Dalam penelitian terhadap infeksi Staphylococcus aureus yang dilakukan di University of Nottingham, para ahli menemukan adanya beberapa bakteri dengan level QS rendah. Alih-alih ikut memproduksi racun, bakteri ini justru sibuk berkembang biak dan menghasilkan bakteri dengan tingkat QS sama rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangbiakan yang dilakukan bakteri pengkhianat selama infeksi itu bukan hanya mengurangi produksi racun secara keseluruhan, namun sekaligus menekan populasi bakteri normal. Ketika jumlah bakteri dengan QS rendah menjadi lebih banyak, tingkat keparahan infeksi menjadi lebih rendah dan mudah diobati.
Keberadaan bakteri dengan QS rendah ini memunculkan gagasan untuk mengisolasinya, lalu memanfaatkannya dalam penanganan infeksi. Bukan hanya untuk infeksi S Aureus, diharapkan ide ini juga bisa mengatasi bakteri super seperti MRSA yang sudah kebal terhadap antibiotik.
Apabila berhasil, cara ini akan digunakan untuk melengkapi prosedur penanganan infeksi dengan antibiotik. Seperti diketahui, salah satu penyebab makin banyaknya bakteri-bakteri super adalah pengobatan dengan antibiotik yang tidak tuntas membunuh semua bakteri.
(up/ir)










































