Hal ini berdasarkan studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE. Dengan hasil studi ini, peneliti menemukan bahwa orang-orang yang populer dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, dua minggu lebih awal terjangkit flu.
Peneliti juga mengatakan bahwa hal ini bisa menjadi peringatan dini untuk epidemi wabah flu dan penyakit infeksi lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini sangat beralasan, karena orang populer akan lebih mudah bergaul dengan banyak dan beragam orang, yang bisa jadi sedang menderita penyakit infeksi yang mudah menular.
"Seseorang yang menjadi pusat perhatian akan lebih dulu tertular penyakit flu," ujar Nicholas Christakis, MD, seorang profesor sosiologi kedokteran di Harvard Medical School, Boston, seperti dilansir dari Health.com, Kamis (16/9/2010).
Dalam studi tersebut Dr Christakis dan rekannya James Fowler, PhD, seorang profesor genetika medis di University of California, memilih 319 mahasiswa Harvard secara acak dan ditanyai tentang nama-nama temannya.
Sekitar sepertiga dari partisipan melaporkan menderita flu di musim gugur dan dingin pada tahun 2009. Dan partisipan yang lebih populer ternyata didiagnosis 14 hari lebih awal ketimbang teman-teman lainnya.
"Ini merupakan temuan yang menjanjikan dan menarik," tutur Philip Polgreen, MD, asisten profesor kedokteran dan epidemiologi di University of Iowa Iowa City.
Menurutnya, studi ini akan memberikan cara yang sederhana untuk melacak dan memerangi epidemi, terutama dalam komunitas dengan pengaturan otonom seperti kampus dan pangkalan militer.
(mer/ir)











































