Ini Dia Keluarga Monyet yang Menularkan Malaria

Ini Dia Keluarga Monyet yang Menularkan Malaria

- detikHealth
Kamis, 23 Sep 2010 13:30 WIB
Ini Dia Keluarga Monyet yang Menularkan Malaria
Birmingham - Penyakit malaria yang dialami manusia saat ini memang berasal dari keluarga monyet. Kini peneliti sudah bisa memastikan keluarga monyet mana yang menjadi tersangka pertama penular malaria ke manusia.

Selama ini orang meyakini penyakit malaria berasal dari keluarga monyet (primata) dari golongan simpanse. Namun penelitian terbaru mematahkan keyakinan tersebut, sebab ternyata parasit mematikan itu pertama kali ditularkan ke manusia dari keluarga monyet golongan gorila.

Pertanyaan itu ini terjawab setelah peneliti dari University of Alabama melakukan penelusuran DNA pada sejumlah primata. Jejak infeksi parasit paling mirip dengan p.falciparum ditemukan pada gorila, bukan pada simpanse.

Dalam pembuktian tersebut, peneliti menggunakan DNA yang diperoleh dari feses primata. Tak kurang dari 1.000 ekor simpanse, 850 ekor gorila dan 107 ekor bonobo diambil tinjanya untuk diperiksa.

Kesimpulan ini meruntuhkan dugaan sebelumnya bahwa malaria ditularkan langsung dari simpanse. Kenyataanya DNA plasmodium pada simpanse tidak ada yang mendekati DNA Plasmodium falciparum, parasit malaria yang menyerang manusia.

Namun kurangnya data tentang evolusi p.falciparum membuat peneliti belum berani menyimpulkan kapan parasit tersebut pertama kali menjangkiti manusia. Beberapa penelitian hanya memperkirakan penularan itu terjadi 5.000 hingga 300.000 tahun lalu.

Dikutip dari Nature, Kamis (23/9/2010), p.falciparum merupakan 1 dari 5 jenis plasmodium penyebab malaria pada manusia. Seperti halnya plasmodium yang lain, parasit ini menyerang sel darah merah dan bisa menyebabkan kematian pada manusia.

Organisasi kesehatan dunia WHO mencatat sedikitnya 250 juta orang di seluruh dunia terinfeksi malaria dalam setahun. Sekitar 1 juta di antaranya berujung pada kematian.

Gejala Malaria

Gejala malaria hampir sama dengan penyakit flu yaitu demam, badan menggigil, nyeri otot dan sakit kepala. Beberapa orang ada yang disertai mual, muntah, batuk dan diare.

Siklus yang khas dari malaria adalah badan menggigil, demam dan berkeringat yang berulang setiap 1,2 atau 3 hari. Jika ditemukan kulit menguning dan mata seperti putih maka telah terjadi kerusakan sel darah merah dan sel-sel hati.

Seperti dikutip Medicinenet, orang yang terkena malaria falciparum bisa mengakibatkan pendarahan, shock, gagal hati atau ginjal, masalah pada sistem saraf pusat hingga koma. Kondisi tersebut harus ditangani dengan cepat, karena sangat berisiko tinggi mengakibatkan kematian.

Jika infeksi malaria masih ringan bisa diobati dengan obat oral. Tapi beberapa wilayah di dunia memiliki jenis malaria yang resisten terhadap obat-obatan tertentu.

Jika gejala yang ditunjukkan sudah parah, maka pasien memerlukan pengobatan terapi obat dan cairan melalui intravena. Terapi obat untuk malaria ini tidak selalu mudah. Chloroquine fosfat merupakan pilihan obat untuk semua parasit malaria kecuali strain Plasmodium yang sudah resisten.

Jika ingin melakukan perjalanan ke daerah yang rentan terkena malaria, sebaiknya mengonsumsi obat antimalaria selama 1-2 minggu sebelum berangkat. Hindari gigitan nyamuk pada pagi hari, sore serta senja hingga fajar dan gunakan pembasmi nyamuk yang mengandung minimal 50 persen DEET (N,N-diethyl-m-toluamide).

(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads