Vaksin malaria telah menjadi impian dari ratusan ahli, tetapi usaha ini sepertinya masih sulit untuk benar-benar dikembangkan dan diselesaikan.
Banyaknya daerah yang menjadi endemi malaria di seluruh dunia termasuk Indonesia, mendorong para ilmuwan untuk menciptakan vaksin malaria.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah angka yang sangat kecil, vaksin itu hanya bisa melindungi 5 orang," ujar Dr Stephen Hoffman, CEO Sanaria, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (30/9/2010).
Tapi menurut Dr Hoffman, Sanaria yang merupakan perusahaan yang berbasis di Maryland, US, tidak akan menyerah.
Hasil uji coba klinis yang mengecewakan tersebut membuat perusahaan yang dibuka sejak tahun 2007 ini harus berjuang lebih berat untuk mengembangkan vaksin guna melawan infeksi yang membunuh 800.000 orang per tahun, yang kebanyakan anak-anak di Afrika.
Sebelumnya pada pengujian hewan, vaksin ini menunjukkan hasil perlindungan yang lebih baik. Oleh karena itu, Dr Hoffman kini sedang merencanakan cara-cara baru untuk dapat kembali mengujinya pada manusia.
"Vaksin ini telah diimunisasikan kepada 80 relawan dan telah ditoleransi dengan baik dan aman. Tetapi ternyata reaksi kekebalan terhadap parasit malaria ini tidak seperti yang diharapkan," jelas Dr Hoffman.
Kini, Sanaria telah kehabisan uang untuk melanjutkan usaha nirlaba PATH Malaria Vaccine Initiative. Tetapi Hoffman berencana untuk melanjutkan dengan dana bantuan dari US National Institutes of Health dan mungkin beberapa instansi pemerintah lainnya.
Sedangkan perusahaan lain yang dianggap paling menjanjikan oleh sebagian besar ahli untuk dapat menghasilkan vaksin malaria adalah GlaxoSmithKline (GSK), yaitu dengan produk RTS,S atau Mosquirix.
Glaxo telah menghabiskan 300 juta dolar (Rp 2,6 triliun) untuk Mosquirix dan berencana untuk mengeluarkan 100 juta dolar lagi serta akan menerima tambahan sekitar 100 juta dolar atau lebih dari Bill & Melinda Gates Foundation, sehingga total dana seluruhnya adalah 500 juta dolar (Rp 4,5 triliun).
Malaria disebabkan oleh parasit dan membuat vaksin terhadap parasit jauh lebih sulit dilakukan daripada vaksinasi terhadap organisme bersel tunggal, seperti bakteri atau virus yang bahkan lebih sederhana.
Malaria ditularkan oleh nyamuk yang memiliki siklus hidup kompleks, melewati dari darah ke hati dan ke organ lainnya. Malaria banyak menyebabkan kematian jika telat ditangani.
(mer/ir)










































